Senin, 02 Agustus 2021

*SENSASI ITU TIDAK DICARI,TIDAK DI TOLAK,TETAPI DI JATUHKAN,SEHINGGA KITA MELAMPAUINYA*Rupanya damai bisa membosankan juga yaTeliti lagiYg bosan itu siapa?Iyah,,,Gak tau jenuh2 gitu gak ada sensasiKarena km blm mnemukan titik diam yg sesungguhnyaSehingga terganggu oleh pikiran yg mewajibkan bergerak.suatu aktifitas mekanis seperti robot.Kamu belum menyelam ke dasarnyaMasih di permukaanSehingga masih ketergantungan dng sensasi sensasi.membutuhkan sensasi mencari sensasi Nah ini ni kuncinya,,,,Kapan ya bisa masuk maksimal,,,biasanya harus di tempat yng damai seperti tengah malam 🤕🤕tpi bahagia juga,mencoba menikmati Manusia yg tidak sadar selalu mengejar sensasi.itu menjadi tujuan hidup .disadari atau tidak itu yang sesungguhnya mereka kerjakan.uang kemewahan mobil rumah posisi jabatan kesibukan sok sibuk jadi ketua panitia apalah jadi sekertaris apa jadi anggota komunitas apa jadi wanita sosialita yang gemar ngumpul hanya untuk makan dengan teman agar kelihatan sibuk .ikut arisan ikut organisasi ini itu.dll semuanya adalah soal sensasi mereka melekatkan sensasi pada benda benda kemudian mereka mengejarnya.yang sesungguhnya adalah mereka mengejar sensasi bukan bendanya.Tanpa ngapa ngapain itu jelek tidak ngapa ngapain itu pemborosan waktu tidak melakukan apa apa itu dianggap orang yang tidak berguna dll.jadi ada mindset mematikan dan konsep beracun yg ada di sekita kita yaitu :HIDUP ITU HARUS BERBUAT SESUATU HIDUP ITU HARUS MELAKUKAN BANYAK HAL Tanpa sensasi adalah sesuatu yang baru.tanpa sensasi adalah kematian.orang orang tidak pernah mau mendekati kematian karena bagi mereka kematian artinya bencana kematian itu buruk.tidak ada yg indah dari kematian.namun jika kita mau menyelam ke dasarnya ke titik yang lebih mendalam maka kita akan menemukan bahwa TANPA SENSASI JUGA ADALAH PERAYAAN JUGA ADALAH KEHIDUPAN

*SENSASI ITU TIDAK DICARI,TIDAK DI TOLAK,TETAPI DI JATUHKAN,SEHINGGA KITA MELAMPAUINYA*


Rupanya damai bisa membosankan juga ya

Teliti lagi
Yg bosan itu siapa?

Iyah,,,
Gak tau jenuh2 gitu gak ada sensasi

Karena km blm mnemukan titik diam yg sesungguhnya
Sehingga terganggu oleh pikiran yg mewajibkan bergerak.suatu aktifitas mekanis seperti robot.
Kamu belum menyelam ke dasarnya
Masih di permukaan
Sehingga masih ketergantungan dng sensasi sensasi.membutuhkan sensasi mencari sensasi

 Nah ini ni kuncinya,,,,
Kapan ya bisa masuk maksimal,,,biasanya harus di tempat yng damai seperti tengah malam

 ðŸ¤•🤕tpi bahagia juga,mencoba menikmati

 Manusia yg tidak sadar selalu mengejar sensasi.itu menjadi tujuan hidup .disadari atau tidak itu yang sesungguhnya mereka kerjakan.uang kemewahan mobil rumah  posisi jabatan kesibukan sok sibuk jadi ketua panitia apalah jadi sekertaris apa jadi anggota komunitas apa jadi wanita sosialita yang gemar ngumpul hanya untuk makan dengan teman agar kelihatan sibuk .ikut arisan ikut organisasi ini itu.dll semuanya adalah soal sensasi mereka melekatkan sensasi pada benda benda kemudian mereka mengejarnya.yang sesungguhnya adalah mereka mengejar sensasi bukan bendanya.

Tanpa ngapa ngapain itu jelek tidak ngapa ngapain itu pemborosan waktu tidak melakukan apa apa itu dianggap orang yang tidak berguna dll.jadi ada mindset mematikan dan konsep beracun yg ada di sekita kita yaitu :HIDUP ITU HARUS BERBUAT SESUATU HIDUP ITU HARUS MELAKUKAN BANYAK HAL 
Tanpa sensasi adalah sesuatu yang baru.tanpa sensasi adalah kematian.orang orang tidak pernah mau mendekati kematian karena bagi mereka kematian artinya bencana kematian itu buruk.tidak ada yg indah dari kematian.namun jika kita mau menyelam ke dasarnya ke titik yang lebih mendalam maka kita akan menemukan bahwa TANPA SENSASI JUGA ADALAH PERAYAAN JUGA ADALAH KEHIDUPAN

Rupanya damai bisa membosankan juga yaTeliti lagiYg bosan itu siapa?Iyah,,,Gak tau jenuh2 gitu gak ada sensasiKarena km blm mnemukan titik diam yg sesungguhnyaSehingga terganggu oleh pikiran yg mewajibkan bergerak.suatu aktifitas mekanis seperti robot.Kamu belum menyelam ke dasarnyaMasih di permukaanSehingga masih ketergantungan dng sensasi sensasi.membutuhkan sensasi mencari sensasi Nah ini ni kuncinya,,,,Kapan ya bisa masuk maksimal,,,biasanya harus di tempat yng damai seperti tengah malam 🤕🤕tpi bahagia juga,mencoba menikmati Manusia yg tidak sadar selalu mengejar sensasi.itu menjadi tujuan hidup .disadari atau tidak itu yang sesungguhnya mereka kerjakan.uang kemewahan mobil rumah posisi jabatan kesibukan sok sibuk jadi ketua panitia apalah jadi sekertaris apa jadi anggota komunitas apa jadi wanita sosialita yang gemar ngumpul hanya untuk makan dengan teman agar kelihatan sibuk .ikut arisan ikut organisasi ini itu.dll semuanya adalah soal sensasi mereka melekatkan sensasi pada benda benda kemudian mereka mengejarnya.yang sesungguhnya adalah mereka mengejar sensasi bukan bendanya.Tanpa ngapa ngapain itu jelek tidak ngapa ngapain itu pemborosan waktu tidak melakukan apa apa itu dianggap orang yang tidak berguna dll.jadi ada mindset mematikan dan konsep beracun yg ada di sekita kita yaitu :HIDUP ITU HARUS BERBUAT SESUATU HIDUP ITU HARUS MELAKUKAN BANYAK HAL Tanpa sensasi adalah sesuatu yang baru.tanpa sensasi adalah kematian.orang orang tidak pernah mau mendekati kematian karena bagi mereka kematian artinya bencana kematian itu buruk.tidak ada yg indah dari kematian.namun jika kita mau menyelam ke dasarnya ke titik yang lebih mendalam maka kita akan menemukan bahwa TANPA SENSASI JUGA ADALAH PERAYAAN JUGA ADALAH KEHIDUPAN

CHOGYAL NAMKHAI NORBU RINPOCHE

Sebelum berbicara dengan guru 
lebih baik untuk mengamati diri sendiri sedikit, 
dengan cara itu Anda 
mungkin menemukan jawabannya sendiri.  

Lebih baik menjadi guru atau master 
bagi diri sendiri daripada 
menugaskan pekerjaan ini kepada orang lain.  

Itulah sebabnya guru, 
dan terutama guru Dzogchen, 
mengajar kita untuk mengamati diri sendiri 
dan menemukan kondisi kita sendiri, 
dan selalu meminta kita semua untuk bertanggung jawab atas diri kita sendiri.  

Mengapa guru menanyakan hal ini ?  

Bukan karena mereka khawatir diganggu, 
tetapi karena mereka tahu betul bahwa 
selalu berpaling kepada guru bukanlah solusi.  

Solusinya terletak pada mengamati diri kita sendiri dan menyelesaikan masalah kita sendiri.  

Kemudian, 
jika kita tidak memiliki cara 
untuk menemukan solusi, 
guru pasti dapat membantu kita.  

Jika semua orang melakukan ini, 
itu akan jauh lebih mudah.

Rupanya damai bisa membosankan juga yaTeliti lagiYg bosan itu siapa?Iyah,,,Gak tau jenuh2 gitu gak ada sensasiKarena km blm mnemukan titik diam yg sesungguhnyaSehingga terganggu oleh pikiran yg mewajibkan bergerak.suatu aktifitas mekanis seperti robot.Kamu belum menyelam ke dasarnyaMasih di permukaanSehingga masih ketergantungan dng sensasi sensasi.membutuhkan sensasi mencari sensasi Nah ini ni kuncinya,,,,Kapan ya bisa masuk maksimal,,,biasanya harus di tempat yng damai seperti tengah malam 🤕🤕tpi bahagia juga,mencoba menikmati Manusia yg tidak sadar selalu mengejar sensasi.itu menjadi tujuan hidup .disadari atau tidak itu yang sesungguhnya mereka kerjakan.uang kemewahan mobil rumah posisi jabatan kesibukan sok sibuk jadi ketua panitia apalah jadi sekertaris apa jadi anggota komunitas apa jadi wanita sosialita yang gemar ngumpul hanya untuk makan dengan teman agar kelihatan sibuk .ikut arisan ikut organisasi ini itu.dll semuanya adalah soal sensasi mereka melekatkan sensasi pada benda benda kemudian mereka mengejarnya.yang sesungguhnya adalah mereka mengejar sensasi bukan bendanya.Tanpa ngapa ngapain itu jelek tidak ngapa ngapain itu pemborosan waktu tidak melakukan apa apa itu dianggap orang yang tidak berguna dll.jadi ada mindset mematikan dan konsep beracun yg ada di sekita kita yaitu :HIDUP ITU HARUS BERBUAT SESUATU HIDUP ITU HARUS MELAKUKAN BANYAK HAL Tanpa sensasi adalah sesuatu yang baru.tanpa sensasi adalah kematian.orang orang tidak pernah mau mendekati kematian karena bagi mereka kematian artinya bencana kematian itu buruk.tidak ada yg indah dari kematian.namun jika kita mau menyelam ke dasarnya ke titik yang lebih mendalam maka kita akan menemukan bahwa TANPA SENSASI JUGA ADALAH PERAYAAN JUGA ADALAH KEHIDUPAN

CHOGYAL NAMKHAI NORBU RINPOCHE

Sebelum berbicara dengan guru 
lebih baik untuk mengamati diri sendiri sedikit, 
dengan cara itu Anda 
mungkin menemukan jawabannya sendiri.  

Lebih baik menjadi guru atau master 
bagi diri sendiri daripada 
menugaskan pekerjaan ini kepada orang lain.  

Itulah sebabnya guru, 
dan terutama guru Dzogchen, 
mengajar kita untuk mengamati diri sendiri 
dan menemukan kondisi kita sendiri, 
dan selalu meminta kita semua untuk bertanggung jawab atas diri kita sendiri.  

Mengapa guru menanyakan hal ini ?  

Bukan karena mereka khawatir diganggu, 
tetapi karena mereka tahu betul bahwa 
selalu berpaling kepada guru bukanlah solusi.  

Solusinya terletak pada mengamati diri kita sendiri dan menyelesaikan masalah kita sendiri.  

Kemudian, 
jika kita tidak memiliki cara 
untuk menemukan solusi, 
guru pasti dapat membantu kita.  

Jika semua orang melakukan ini, 
itu akan jauh lebih mudah.

LANJUTAN DARI PART 1:*Dewi Parwati bertanya kepada Siwa, OH Siwa, APAKAH REALITA MU?*siapakah engkau? Wujudnya telah lenyap; maka ada pertanyaan. Dalam cinta engkau memasuki yang lain sebagai dirinya sendiri. Bukan engkau yang menjawab. Engkau menjadi satu, dan untuk pertama kalinya engkau memahami sebuah jurang - kehadiran yang tak berwujud. Itu sebabnya selama berabad-abad, dan berabad-abad, kita tidak membuat sebuah patung, gambaran dari Siwa. Kita hanya membuat SiwaLINGA - simbolnya. Siwalinga hanya sebuah wujud yang tak berbentuk. Ketika engkau mencintai seseorang, ketika engkau memasuki seseorang, ia menjadi hanya kehadiran yang bercahaya. Siwalinga hanya sebuah kehadiran bercahaya, hanya sebuah aura cahaya. Itu sebabnya Dewi Parwati bertanya, APAKAH REALITA/HAKIKAT MU? APAKAH SEMESTA YANG MENAKJUBKAN INI? Kita mengetahui alam semesta, tapi kita tidak pernah tahu itu sebagai keajaiban yang menakjubkan. Anak-anak mengetahui, para pecinta mengetahui. Kadang-kadang penyair dan orang gila juga mengetahuinya. Kita tidak tahu bahwa semesta ini adalah keajaiban yang menakjubkan. Semuanya hanya pengulangan - tidak ada harapan, tidak ada puisi, tidak ada prosa, hanya datar. Itu tidak menciptakan lagu di dalam dirimu; itu tidak menciptakan tarian di dalam dirimu; itu tidak melahirkan puisi di dalam dirimu. Seluruh alam semesta terlihat berjalan seperti mekanik. Anak-anak melihatnya dengan mata yang takjub. Ketika mata penuh ketakjuban, alam semesta adalah menakjubkan. Ketika engkau sedang jatuh cinta, sekali lagi engkau menjadi seperti anak-anak. Yesus berkata, "Hanya mereka yang seperti anak-anak yang dapat masuk ke kerajaan Tuhan." Mengapa? Karena jika alam semesta bukanlah sebuah keajaiban, engkau tidak religius. Alam semesta dapat dijelaskan - kemudian pendekatanmu menjadi ilmiah. Alam semesta dapat diketahui atau tidak diketahui, tapi yang tidak diketahui, yang dapat diketahui setiap hari; bahwa itu tidak dapat diketahui. Alam semesta menjadi tidak dapat diketahui, sebuah misteri, hanya ketika matamu penuh dengan ketakjuban. Dewi Parwati mengatakan, APAKAH SEMESTA YANG MENAKJUBKAN INI? Tiba-tiba ada lompatan dari pertanyaan pribadi ke pertanyaan yang sangat tidak personal. Ia bertanya, APAKAH REALITA/HAKIKAT MU? dan lalu tiba-tiba, APAKAH SEMESTA YANG MENAKJUBKAN INI? Ketika bentuk lenyap, kekasihmu menjadi alam semesta itu sendiri, yang tak berbentuk, tak terbatas. Tiba-tiba Dewi Parwati menyadari bahwa ia tidak menanyakan pertanyaan tentang Siwa; dia menanyakan pertanyaan tentang seluruh alam semesta. Sekarang Siwa telah menjadi seluruh alam semesta. Sekarang semua bintang bergerak di dalam dirinya, dan seluruh cakrawala dan seluruh ruang dikelilingi olehnya. Sekarang ia adalah faktor besar yang melingkupi -. “Yang Maha Melingkupi-" Karl Jaspers telah mendefinisikan Tuhan sebagai “Yang Maha Melingkupi.” Ketika engkau memasuki cinta, semakin dalam, ke dunia cinta yang terdalam, pencinta dan yang dicintai lenyap, wujudnya lenyap, dan sang kekasih menjadi gerbang menuju alam semesta. Rasa ingin tahumu dapat menjadi sesuatu yang ilmiah - kemudian engkau harus melakukan pendekatan melalui logika. Maka engkau harus tidak memikirkan yang tanpa wujud . Maka berhati-hatilah dengan yang tak berwujud; dan tetap puas dengan yang berwujud. Ilmu pengetahuan selalu memperhatikan wujud/bentuk. Jika ada yang tak berwujud diajukan kepada pikiran-pikiran ilmiah, ia akan menurunkannya menjadi wujud/bentuk – jika tidak memiliki wujud/bentuk itu tidak ada artinya. Pertama berikan sebuah wujud, sebuah definisi wujud; hanya setelah itu kemudian penyelidikan dapat dimulai. Dalam cinta, jika ada wujud maka tidak akan ada akhirnya. Lenyapkan wujud! Ketika ia menjadi tak berbwujud, tak tertangkap oleh pikiran, tanpa batas, saling memasuki satu dan yang lainnya, seluruh alam semesta menjadi kesatuan, maka hanya ketika itu alam semesta menjadi menakjubkan. APAKAH ASAL USULNYA (alam semesta ini), YANG MEMBENTUKNYA, YANG MENYEBABKANNYA ADA? Kemudian Dewi Parwati melanjutkan. Dari alam semesta ia melanjutkan bertanya; Apakah asal usulnya, yang membentuknya, yang menyebabkannya ada? Yang tak berbentuk ini, alam semesta menakjubkan ini, dari mana datangnya? Dari mana asalnya? Atau apakah tidak memiliki asal? Apakah yang menjadi benihnya? SIAPAKAH YANG MENGENDALIKAN PERPUTARAN ALAM SEMESTA INI? tanya Dewi Parwati. Roda ini terus bergerak dan bergerak - perubahan besar ini, perubahan yang konstan. Tapi siapa yang mengendalikan/memusatkan roda ini? Dimana sumbu, pusat yang tak bergerak itu? Dewi Parwati tidak berhenti untuk sebuah jawaban. Dia melanjutkan bertanya seolah-olah dia tidak bertanya kepada siapa pun, seakan berbicara kepada dirinya sendiri. APAKAH HIDUP YANG DI LUAR SEGALA WUJUD DAN SEKALIGUS MERESAPI SEMUA WUJUD? BAGAIMANA KITA DAPAT SEPENUHYA MASUK KE DALAMNYA, MELAMPAUI RUANG DAN WAKTU, MELAMPAUI SEGALA NAMA DAN MELAMPAUI SEMUA PENJELASAN? MOHON HAPUSKANLAH KERAGUANKU. Penekanannya bukan pada pertanyaan tapi pada keraguan: MOHON HAPUSKANLAH KERAGUANKU! Hal ini sangat berarti. Jika engkau menanyakan pertanyaan intelektual, engkau meminta jawaban yang pasti sehingga masalahmu terpecahkan. Tapi Dewi Parwati mengatakan, MOHON HAPUSKANLAH KERAGUANKU! Ia tidak benar-benar meminta jawaban. Ia meminta transformasi pada pikirannya, karena pikiran yang meragukan akan tetap meragukan apapun jawaban yang diberikan. Catat itu: pikiran yang meragukan akan tetap meragukan. Jawaban tidak relevan. Jika aku memberikan satu jawaban dan engkau memiliki pikiran meragu, engkau akan tetap meragukannya. Jika aku memberikan jawaban lain, engkau akan meragukan itu juga. Engkau memiliki pikiran yang meragukan. Pikiran meragukan berarti engkau akan memberikan tanda tanya untuk apa pun. Jadi jawaban adalah tidak berguna. Engkau bertanya kepadaku, "Siapa yang menciptakan dunia?" Dan aku katakan "A" menciptakan dunia. Maka engkau harus bertanya, "Siapa yang menciptakan 'A'?" Jadi masalah sebenarnya adalah bukan bagaimana untuk menjawab pertanyaan. Masalah sebenarnya adalah bagaimana mengubah pikiran yang meragukan, bagaimana cara membuat pikiran yang tidak meragu - atau, yang penuh kepercayaan. Jadi Dewi Parwati mengatakan, MOHON HAPUSKANLAH KERAGUANKU. Dua atau tiga hal lagi .... Ketika engkau mengajukan pertanyaan, engkau dapat bertanya untuk banyak alasan. Mungkin salah satunya adalah, engkau hanya ingin konfirmasi. Engkau sudah tahu jawabannya, engkau memiliki jawabannya, engkau hanya ingin dikonfirmasi bahwa jawabanmu benar. Maka pertanyaanmu adalah palsu, pseudo; itu bukan pertanyaan. Engkau dapat mengajukan pertanyaan bukan karena engkau siap untuk merubah dirimu, tetapi hanya sebagai rasa ingin tahu. Pikiran terus bertanya. Dalam pikiran pertanyaan muncul seperti daun-daun di pohon. Itu adalah sifat alami dari pikiran - untuk mempertanyakan. Jadi ia terus bertanya. Bukan soal apa yang engkau pertanyakan, dengan apa pun yang diberikan pada pikiran itu akan menciptakan pertanyaan. Pikiran adalah mesin untuk memproduksi pertanyaan, untuk membuat pertanyaan. Jadi berikan apapun dan pikiran akan memotong-motongnya dan menciptakan banyak pertanyaan. Satu pertanyaan dijawab, dan pikiran akan membuat banyak pertanyaan lagi dari jawaban itu. Ini sudah terjadi dalam seluruh sejarah filsafat. Bertrand Russell mengingat ketika ia masih anak-anak ia diberitahu bahwa suatu hari, ketika ia cukup dewasa untuk memahami semua filsafat, semua pertanyaan akan terjawab. Lalu kemudian, Ketika ia berumur delapan puluh tahun, ia berkata, "Sekarang aku bisa mengatakan bahwa pertanyaanku masih ada di sana, tetap seperti ketika aku masih anak-anak dulu. Tidak ada pertanyaan lain muncul karena teori filsafat ini.” Kemudian ia berkata, "Ketika aku masih muda aku sering berkata, filsafat adalah penyelidikan untuk mendapatkan jawaban akhir. Sekarang aku tidak bisa mengatakan hal itu. Filsafat adalah penyelidikan untuk pertanyaan yang tak berujung.“ Jadi satu pertanyaan menciptakan satu jawaban dan banyak pertanyaan lainnya. Pikiran yang meragukan itulah masalahnya. Dewi Parwati mengatakan, "Jangan khawatir dengan pertanyaanku. Aku punya begitu banyak hal untuk ditanyakan: Apa realitas/hakikat-MU? Apakah alam semesta yang menakjubkan ini? Apa yang menyusun benihnya? Siapa yang mengendalikannya? Bagaimanakah kehidupan yang melampaui bentuk? Bagaimana kita bisa memasuki sepenuhnya di atas ruang dan waktu? Tapi jangan khawatir denganpertanyaan-pertanyaanku. Mohon hapuskan keraguanku. Pertanyaan-pertanyaan ini aku tanyakan karena mereka berada di pikiranku. Aku menanyakan mereka hanya untuk menunjukkan kepadamu pikiranku, tetapi jangan memberi banyak perhatian kepada mereka. Sungguh, jawaban tidak akan memenuhi kebutuhanku. Kebutuhanku adalah ... mohon hapuskan keraguanku.“ Tapi bagaimana keraguan itu bisa dihapuskan? Dapatkah jawaban melakukannya? Apakah ada jawaban yang akan dapat menjernihkan keraguanmu? Pikiran adalah keraguan itu sendiri. Jadi bukan pikiran yang meragukan, tapi pikiran adalah keraguan itu! kecuali pikiran menjadi lenyap, keraguan tidak bisa hapuskan. Siwa akan menjawab. Jawabannya adalah teknik - yang tertua, teknik yang paling kuno. Tapi engkau dapat menyebutnya juga yang terbaru karena tidak ada yang dapat ditambahkan lagi. Teknik ini lengkap - seratus dua belas teknik. Teknik ini telah mencakup semua kemungkinan, semua cara untuk menjernihkan pikiran, melampaui pikiran. Tidak ada satu metode pun dapat ditambahkan kedalam seratus dua belas metode Siwa. Dan buku ini, VIGYANA BHAIRAVA TANTRA, berusia lima ribu tahun. Tidak ada yang dapat ditambahkan; tidak ada kemungkinan untuk menambahkan sesuatu. Buku ini sangat lengkap. Ini adalah yang paling kuno dan juga yang paling baru. Tua seperti bukit tua - metode yang tampaknya kekal - dan mereka juga baru seperti embun yang muncul sebelum matahari, dan karena itu mereka begitu segar. Seratus dua belas metode meditasi ini merupakan keseluruhan ilmu untuk men-transformasi-kan pikiran. Kita akan memasukinya satu per satu. Kita akan mencoba untuk memahaminya secara intelektual. Tapi gunakan kecerdasanmu hanya sebagai alat, bukan sebagai tuan. Gunakan sebagai instrumen untuk memahami sesuatu, tapi jangan menjadikanya hambatan. Ketika kita berbicara mengenai teknik ini, kesampingkan pengetahuan masa lalumu, apa yang engkau telah ketahui, informasi apapun yang telah engkau kumpulkan. Kesampingkan mereka, mereka hanya debu yang berkumpul di jalan. Terima metode ini dengan pikiran yang segar - dengan keterjagaan, tentu saja, tapi tidak dengan argumentasi. Dan jangan membuat kesalahan bahwa pikiran argumentatif adalah pikiran yang terjaga. Bukan begitu, karena saat engkau masuk ke wilayah argumen engkau telah kehilangan kesadaran, engkau telah kehilangan keterjagaan tersebut. Maka engkau tidak berada di sini. Metode ini bukan milik agama apapun. Ingat, mereka bukan Hindu, seperti teori relativitas bukan milik orang Yahudi karena Einstein yang menemukannya. Dan Radio dan televisi bukan Kristen. Tidak ada yang mengatakan, "Mengapa engkau menggunakan listrik? Ini adalah Kristen, pikiran Kristen yang menemukannya. Ilmu pengetahuan bukan milik ras dan agama -. Dan tantra adalah ilmu pengetahuan. Jadi ingat, ini bukan Hindu sama sekali. Teknik ini ditemukan oleh Hindu, tetapi teknik ini bukan Hindu. Itu sebabnya teknik ini tidak akan menyebutkan ritual agama apapun. Tidak ada kuil yang dibutuhkan. Engkau sudah cukup menjadi kuil bagi dirimu sendiri. Engkau adalah laboratorium; seluruh eksperimen adalah untuk pergi kedalam dirimu. Tidak ada keyakinan yang dibutuhkan. Ini bukan agama, ini adalah ilmu pengetahuan. Tidak ada keyakinan yang dibutuhkan. Tidak diperlukan untuk percaya pada Al-Quran atau Veda atau Buddha atau Mahavira. Tidak, tidak ada keyakinan yang dibutuhkan. Hanya keinginan untuk bereksperimen sudah cukup, keberanian untuk bereksperimen sudah cukup; Itulah keindahannya. Penganut Islam dapat berlatih dan akan dapat menggapai makna yang lebih dalam dari Al’quran. Penganut Hindu dapat berlatih dan untuk pertama kalinya akan dapat mengetahui apakah Veda itu. Dan penganut Jain dapat berlatih dan penganut Buddha dapat berlatih; Mereka tidak perlu meninggalkan agama mereka. Tantra akan memenuhi mereka, di mana pun mereka berada. Tantra akan membantu, apapun jalan yang mereka pilih. Jadi ingatlah ini, tantra adalah murni ilmu pengetahuan. Engkau mungkin seorang Hindu atau Islam atau Parsi atau apapun - tantra tidak menyentuh agamamu sama sekali. Tantra hanya mengatakan agama adalah urusan sosial. Jadi beragama apapun; itu tidak jadi persoalan. Tapi engkau bisa melakukan transformasi/perubahan pada dirimu, dan untuk transformasi itu diperlukan metodologi ilmiah. Ketika engkau sakit, ketika engkau telah jatuh sakit atau terjangkit penyakit TBC atau apa pun, maka apakah engkau seorang Hindu atau Islam tidak ada bedanya. TBC tidak perduli terhadap agama Hindu-mu, terhadap agama islam-mu, keyakinan-mu - politik, sosial atau agama. TBC harus diobati secara ilmiah. Tidak ada TBC Hindu, tidak ada TBC Islam. Engkau berada dalam ketidaktahuan, engkau berada dalam konflik, engkau tertidur. Ini adalah penyakit, penyakit spiritual. Penyakit ini harus dirawat dengan tantra. Engkau tidak relevan, keyakinanmu tidak relevan. Hanya kebetulan saja bahwa engkau dilahirkan di suatu tempat dan orang lain lahir di tempat lain. Ini hanya kebetulan. Agamamu adalah suatu kebetulan, jadi jangan berpegang teguh dengan itu. Gunakan beberapa metode ilmiah untuk mengubah dirimu. Tantra sangat tidak terkenal. Dan bahkan jika dikenal, itu sangat banyak disalahpahami. Ada alasan untuk itu. Lebih tinggi dan lebih murni sebuah ilmu pengetahuan, semakin kecil kemungkinan masyarakat akan tahu mengenai hal itu. Kita telah mendengar nama teori relativitas. Dikatakan bahwa hanya dua belas orang yang memahaminya semasa Einstein masih hidup. Dari seluruh dunia hanya satu lusin pikiran bisa memahami itu. Sangat sulit bahkan bagi seorang Albert Einstein untuk membuatnya dapat dipahami, untuk membuatnya dimengerti, karena hal itu bergerak begitu tinggi, berjalan di atas kepalamu. Tapi itu dapat dipahami. Sebuah teknis, pengetahuan matematika yang dibutuhkan; pelatihan diperlukan, dan kemudian dapat dipahami. Namun tantra lebih sulit karena tidak ada pelatihan yang akan dapat membantu. Hanya transformasi yang dapat membantu. Itulah sebabnya tantra tidak pernah bisa dipahami oleh orang banyak. Dan yang selalu terjadi jika engkau tidak bisa memahaminya, paling sedikit engkau akan salah paham, karena hanya dengan begitu engkau bisa merasakan, "Oke, aku mengerti." Engkau tidak bisa hanya tetap diam. Kedua, bila engkau tidak dapat memahami suatu hal, engkau mulai menjelek-jelekkannya sebagai hal yang menghinamu. Engkau tidak dapat memahaminya! Engkau? Engkau tidak memahaminya? Itu tidak mungkin. Pasti ada yang salah dengan hal itu sendiri. Orang tersebut kemudian mulai menjelek-jelekkannya, mulai berbicara omong kosong, dan kemudian ia merasa, "Sekarang sudah tidak apa-apa.” Jadi tantra tidak dipahami; tantra disalahpahami. Karena Tantra begitu dalam dan begitu tinggi maka hal itu adalah wajar. Kedua, karena tantra bergerak melampaui dualitas, sudut pandangnya adalah amoral. Tolong pahami kata ini: ‘moral’, 'imoral', 'amoral'. Kita memahami moralitas, kita memahami tidak bermoral, tapi menjadi sulit jika ada sesuatu yang amoral - melampaui keduanya. Tantra adalah bebas dari moral (amoral). Lihatlah dengan cara ini .... Sebuah obat adalah bebas dari moral; bukan bermoral dan bukan tidak bermoral (immoral). Jika engkau memberikannya kepada pencuri itu akan membantu; jika engkau memberikannya kepada orang suci itu akan membantu. Tidak akan membuat perbedaan antara pencuri dan orang suci. Obat tidak bisa mengatakan, "Ini adalah pencuri jadi aku akan membunuhnya, dan ini adalah orang suci jadi aku akan membantunya." Sebuah obat adalah hal yang ilmiah. Apakah engkau seorang pencuri atau orang suci itu tidak ada bedanya. Tantra adalah amoral. Tantra mengatakan, tidak ada moralitas yang diperlukan - tidak ada moralitas tertentu yang dibutuhkan. Sebaliknya, engkau tidak bermoral karena engkau memiliki pikiran yang sangat terganggu. Jadi tantra tidak dapat membuat prasyarat, engkau harus menjadi bermoral dan kemudian engkau dapat berlatih tantra. Tantra mengatakan, ini tidak masuk akal. Seseorang sakit, demam, dan dokter datang dan mengatakan, "Pertama turunkan demam-mu; jadilah cukup sehat terlebih dahulu. Maka hanya setelah itu bisa aku berikan obat.” Ini adalah apa yang terjadi. Seseorang pencuri datang ke orang suci dan berkata, "Aku seorang pencuri. Beritahu aku bagaimana untuk bermeditasi.” Orang suci mengatakan, ”Pertama tinggalkan profesimu. Bagaimana engkau bisa bermeditasi jika engkau tetap pencuri? “ Seorang pencandu alkohol datang dan ia berkata, "Aku seorang pecandu alkohol. Bagaimana aku bisa bermeditasi?” Orang suci mengatakan, "Kondisi pertama, tinggalkan alkohol, kemudian hanya setelahnya engkau dapat bermeditasi. "Kondisi ini menjadi seperti bunuh diri. Pria itu menjadi pencandu alcohol atau pencuri atau tidak bermoral karena ia memiliki pikiran yang terganggu, pikiran yang sakit. Itu adalah merupakan efek, konsekuensi dari pikiran yang sakit, dan ia diberitahu, "Pertama jadi baik dan kemudian engkau bisa bermeditasi." Tapi kemudian saat itu siapa yang membutuhkan meditasi? Meditasi adalah pengobatan. Meditasi adalah obat. Tantra adalah bebas moral (amoral). Ia tidak bertanya siapa dirimu. Engkau menjadi seorang manusia sudah cukup. Dimanapun engkau berada, apapun engkau, engkau diterima. Pilih teknik yang sesuai dengan dirimu, berikan energimu secara penuh ke dalamnya, dan engkau tidak akan sama lagi. Sungguh, teknik yang otentik akan selalu seperti itu. Jika aku membuat persyaratan, itu menunjukkan aku memiliki teknik yang palsu - Aku katakan, "Pertama lakukan ini dan pertama jangan lakukan itu, dan kemudian ..." Dan semua persyaratan itu adalah tidak mungkin karena pencuri dapat mengubah benda yang akan dicurinya, tetapi ia tidak dapat menjadi bukan-pencuri. Seseorang yang serakah dapat mengubah objek keserakahannya, tapi ia tidak dapat menjadi tidak-serakah. Engkau dapat memaksanya atau ia dapat memaksa dirinya sendiri menjadi tanpa-keserakahan, tapi itu juga akan terjadi karena keserakahan tertentu. Jika surga yang dijanjikan mungkin ia akan mencoba untuk menjadi tidak-serakah. Tapi ini adalah keserakahan untuk sebuah standard kesempurnaan. Surga, MOKHSA - pembebasan; SATCHITANANDA - keberadaan, kesadaran, kebahagiaan, mereka akan menjadi obyek keserakahannya. Tantra mengatakan, engkau tidak dapat mengubah manusia kecuali engkau memberinya teknik yang otentik untuk berubah. Hanya dengan khotbah tidak ada yang dapat berubah. Dan engkau dapat melihat ini di seluruh dunia. Apapun yang dikatakan tantra tertulis di seluruh dunia - begitu banyak khotbah, begitu banyak moral, begitu banyak imam pengkhotbah. Seluruh dunia ini penuh dengan mereka, namun semuanya tetap begitu buruk dan tidak bermoral. Mengapa ini terjadi? Hal yang sama akan terjadi jika engkau memberikan sebuah rumah sakit untuk para pengkhotbah. Mereka akan pergi ke sana dan mereka akan mulai berkhotbah. Dan mereka akan membuat setiap orang sakit merasa, "Engkau bersalah! Engkau telah membuat sendiri penyakit ini; sekarang rubahlah penyakit ini.” Jika para pengkhotbah diberikan rumah sakit, akan jadi seperti apa kondisi rumah sakit itu? Sama seperti kondisi di seluruh dunia. Pengkhotbah pergi berkhotbah. Mereka terus memberitahu orang-orang, "Jangan marah," tanpa memberikan teknik apapun. Dan kita telah menndengar ajaran ini begitu lama sehingga kita bahkan tidak pernah mengajukan pertanyaan: "Apa yang kau katakan? Aku marah dan engkau hanya mengatakan, 'Jangan marah.’ Bagaimana itu mungkin? Ketika aku marah itu berarti ‘Aku memiliki kemarahan, dan engkau hanya memberitahu aku, 'Jangan marah.’ Jadi aku hanya bisa menekan diri aku sendiri. Tapi itu akan menciptakan lebih banyak kemarahan. Itu akan menciptakan rasa bersalah - karena jika aku mencoba untuk mengubah dan tidak bisa mengubah diriku, itu akan menciptakan rasa rendah diri. Ini memberikanku perasaan bersalah, bahwa aku tidak mampu, aku tidak bisa menang atas kemarahanku. Tidak ada yang bisa menang! Engkau perlu senjata lain, engkau perlu teknik tertentu, karena kemarahanmu hanya indikasi dari pikiran yang terganggu. Dengan mengubah pikiran yang terganggu maka indikasi akan berubah. Kemarahan hanya menunjukkan apa yang ada di dalam. Dengan mengubah yang ada di dalam yang di luar akan berubah. Jadi tantra tidak peduli dengan apa yang disebut moralitas. Sungguh, untuk menekan moralitas berarti, merendahkan; itu tidak manusiawi. Jika seseorang datang kepadaku dan berkata, "Tinggalkan kemarahan terlebih dahulu, tinggalkan seks terlebih dahulu, tinggalkan ini dan itu," maka aku menjadi tidak manusiawi. Apa yang aku katakan adalah mustahil. Dan kemustahilan itu akan membuat pria itu merasa tidak berarti di dalam dirinya. Dia akan mulai merasa rendah diri; Dia akan terdegradasi dalam pandangannya sendiri. Jika seseorang mencoba yang mustahil, ia akan merasa menjadi orang yang gagal. Dan ketika seseorang menjadi orang yang gagal ia akan mulai merasa yakin bahwa ia adalah orang yang berdosa. Para pengkotbah harus meyakinkan seluruh dunia bahwa "Engkau adalah orang berdosa." Itu hal yang baik bagi mereka, karena hanya dengan engkau yakin bahwa engkau berdosa, pekerjaan mereka bisa tetap ada. Engkau harus menjadi orang berdosa: lalu hanya dengan begitu gereja, kuil dan masjid terus memiliki kemakmurannya. Keberadaanmu sebagai pendosa adalah kesuksesan mereka. Rasa bersalahmu adalah dasar dari semua keberhasilan gereja. Semakin bersalah engkau, semakin banyak gereja akan terus naik lebih tinggi dan lebih tinggi lagi. Mereka dibangun di atas rasa bersalahmu, pada dosamu, pada rasa rendah dirimu. Demikian, mereka telah menciptakan kemanusiaan yang lemah dan rendah diri. Tantra tidak peduli dengan apa yang disebut moralitas, formalitas sosialmu, dll. Itu tidak berarti tantra mengatakan untuk menjadi tidak bermoral- tidak! Tantra adalah begitu sangat tidak perduli dengan moralitasmu sehingga tantra tidak bisa mengatakan untuk menjadi tidak bermoral. Tantra memberikan kepadamu teknik ilmiah untuk mengubah pikiran, dan begitu pikiran berubah maka karaktermu akan berubah. Setelah dasar struktur berubah, seluruh bangunan akan menjadi berbeda. Karena sikap bebas moral ini, tantra tidak dapat ditoleransi oleh yang engkau sebut sebagai orang-orang kudus, orang suci,mereka semua menentangnya - karena jika tantra berhasil, maka semua omong kosong ini yang terjadi atas nama agama akan berhenti. Lihat ini: Kekristenan berjuang melawan sangat banyak kemajuan ilmiah. Mengapa? Hanya karena jika kemajuan ilmu pengetahuan telah ada di dunia material, maka waktunya akan menjadi tidak terlalu lama lagi ketika ilmu pengetahuan akan mulai menembus bidang psikologi dan juga dunia spiritual. Jadi Kekristenan mulai berusaha melawan kemajuan ilmiah, karena sekali engkau mengetahui bahwa engkau dapat mengubah materi melalui teknik, tidak lama lagi engkau pun akan mengetahui bahwa engkau dapat mengubah pikiran melalui teknik - karena pikiran adalah tidak lain selain materi yang halus. Ini adalah proposisi tantra, pikiran itu tidak lain adalah materi/fisik halus; itu dapat diubah. Dan begitu engkau memiliki pikiran yang berbeda engkau akan memiliki dunia yang berbeda, karena engkau melihat melalui pikiran. Dunia yang engkau lihat, secara khusus engkau lihat melalui pikiran. Ubahlah pikiran, dan engkau akan melihat ada dunia yang berbeda. Dan jika tidak ada pikiran ... itu adalah tujuan utama untuk tantra, untuk membawa ke kondisi ketika tidak ada pikiran. Kemudian lihatlah dunia tanpa mediator. Ketika mediator tidak ada, engkau mengalami yang sebenarnya, karena kini tidak ada perantara antara engkau dan yang nyata. Maka tidak ada yang dapat menyimpang, tidak ada penyalahartian. Jadi tantra mengatakan bahwa jika tidak ada pikiran, itu adalah keadaan Bhairava - sebuah keadaan tidak ada-pikiran. Untuk pertama kalinya engkau melihat dunia, seperti itulah, sebagaimana adanya. Jika engkau memiliki pikiran, engkau terus MENCIPTAKAN sebuah dunia; engkau terus memaksakan, memproyeksikan. Jadi yang pertama ubahlah pikiran, kemudian mengubah dari pikiran ke tanpa-pikiran. Dan seratus dua belas metode ini dapat membantu setiap orang. Ada metode yang mungkin tidak berguna bagimu. Itulah sebabnya Siwa memberikan banyak metode. Pilih metode apapun yang cocok untukmu. Tidak sulit untuk mengetahui mana yang cocok untuk dirimu. Kita akan mencoba untuk memahami setiap metode dan bagaimana cara memilih satu metode untuk dirimu sendiri, metode yang dapat mengubahmu dan pikiranmu. Pemahaman ini, pemahaman intelektual ini akan menjadi kebutuhan dasar, tapi ini bukan akhir. Apapun yang aku bicarakan di sini, cobalah. Sungguh, ketika engkau mencoba metode yang memang tepat untukmu engkau akan segera merasakan klik saat itu juga. Jadi aku akan terus berbicara tentang metode di sini setiap hari. Engkau mencobanya. Hanya bermain dengannya - pulang dan mencoba. Metode yang tepat, kapanpun engkau kebetulan melakukannya, itu akan klik begitu saja. Sesuatu meledak di dalam dirimu, dan engkau tahu itu "Ini adalah metode yang tepat untuk aku." Namun upaya diperlukan, dan engkau mungkin akan terkejut ketika tiba-tiba suatu hari salah satu metode itu mencengkerammu. Jadi sementara aku berbicara di sini, sama seperti dengan bermain-main dengan metode ini. Aku katakan bermain Karena engkau tidak boleh terlalu serius. Hanya bermain! Sesuatu mungkin cocok bagimu. Jika cocok bagimu, maka jadilah serius, dan kemudian pergilah jauh ke dalamnya - intens, jujur, dengan semua energimu, dengan segenap akal budimu. Tapi sebelum itu hanya bermainlah. Aku menemukan saat sedang bermain pikiran akan lebih terbuka. Sementara saat engkau serius pikiranmu tidak begitu terbuka; ia tertutup. Jadi hanya bermainlah. Jangan terlalu serius, hanya bermain. Dan metode ini sederhana, engkau dapat hanya bermain dengan mereka. Ambil satu metode dan bermain dengan itu untuk sedikitnya tiga hari. Jika itu memberikan engkau perasaan kedekatan tertentu, jika itu memberikanmu perasaan sejahtera, jika memberikanmu perasaan bahwa ini adalah untukmu, maka jadilah serius tentang hal itu. Kemudian lupakan yang lain, jangan bermain dengan metode lain. Setia dengannya - sedikitnya selama tiga bulan. Keajaiban akan menjadi mungkin. Satu-satunya hal adalah teknik itu pasti untukmu. Jika teknik ini bukan untukmu, maka tidak akan terjadi apa-apa. Kemudian engkau akan melakukannya seumur hidupmu, tapi tidak ada apapun yang akan terjadi. Jika metode ini memang untukmu maka bahkan tiga menit saja sudah cukup. Jadi seratus dua belas metode ini dapat menjadi pengalaman penuh keajaiban untukmu, atau hanya menjadi sesuatu yang menyenangkan untuk didengar saja - itu tergantung kepadamu. Aku akan mulai menggambarkan setiap metode dari sebanyak mungkin sudut pandang. Jika engkau merasa memiliki kedekatan dengannya, bermainlah dengannya selama tiga hari. Jika engkau merasa itu cocok, sesuatu pada dirimu merasa klik dengannya, teruskan selama tiga bulan. Hidup adalah sebuah keajaiban. Jika engkau belum juga mengerti misteri itu, itu hanya menunjukkan bahwa engkau tidak memiliki teknik tentang bagaimana cara mendekatinya. Siwa mengusulkan seratus dua belas metode. Ini adalah semua metode yang mungkin. Jika tidak ada yang klik dan tidak ada yang dapat memberikan perasaan bahwa ini adalah untukmu, maka tidak ada metode yang tersisa untukmu - ingat hal ini. Kemudian lupakan spiritualitas dan berbahagialah. Maka ini bukan untukmu. Tapi seratus dua belas metode ini adalah untuk seluruh umat manusia - untuk semua masa yang telah berlalu dan untuk semua masa yang akan datang. Selama masa ini tidak pernah ada, dan tidak akan pernah ada satu orang, yang dapat mengatakan, "Seratus dua belas metode ini semuanya tidak berguna bagi aku." Mustahil! Ini tidak mungkin! Setiap jenis pikiran telah diperhitungkan. Dalam tantra telah diberikan teknik bagi setiap jenis pikiran yang mungkin ada. Ada banyak teknik untuk manusia yang belum ada saat ini; mereka adalah untuk masa depan. Ada banyak teknik untuk manusia yang sudah tidak ada sekarang; mereka adalah untuk masa lalu. Tapi jangan takut. Ada banyak metode dimana itu adalah untuk dirimu. 112 metode tantra bhairava________________________

CHOGYAL NAMKHAI NORBU RINPOCHE

Sebelum berbicara dengan guru 
lebih baik untuk mengamati diri sendiri sedikit, 
dengan cara itu Anda 
mungkin menemukan jawabannya sendiri.  

Lebih baik menjadi guru atau master 
bagi diri sendiri daripada 
menugaskan pekerjaan ini kepada orang lain.  

Itulah sebabnya guru, 
dan terutama guru Dzogchen, 
mengajar kita untuk mengamati diri sendiri 
dan menemukan kondisi kita sendiri, 
dan selalu meminta kita semua untuk bertanggung jawab atas diri kita sendiri.  

Mengapa guru menanyakan hal ini ?  

Bukan karena mereka khawatir diganggu, 
tetapi karena mereka tahu betul bahwa 
selalu berpaling kepada guru bukanlah solusi.  

Solusinya terletak pada mengamati diri kita sendiri dan menyelesaikan masalah kita sendiri.  

Kemudian, 
jika kita tidak memiliki cara 
untuk menemukan solusi, 
guru pasti dapat membantu kita.  

Jika semua orang melakukan ini, 
itu akan jauh lebih mudah.

CHOGYAL NAMKHAI NORBU RINPOCHESebelum berbicara dengan guru lebih baik untuk mengamati diri sendiri sedikit, dengan cara itu Anda mungkin menemukan jawabannya sendiri. Lebih baik menjadi guru atau master bagi diri sendiri daripada menugaskan pekerjaan ini kepada orang lain. Itulah sebabnya guru, dan terutama guru Dzogchen, mengajar kita untuk mengamati diri sendiri dan menemukan kondisi kita sendiri, dan selalu meminta kita semua untuk bertanggung jawab atas diri kita sendiri. Mengapa guru menanyakan hal ini ? Bukan karena mereka khawatir diganggu, tetapi karena mereka tahu betul bahwa selalu berpaling kepada guru bukanlah solusi. Solusinya terletak pada mengamati diri kita sendiri dan menyelesaikan masalah kita sendiri. Kemudian, jika kita tidak memiliki cara untuk menemukan solusi, guru pasti dapat membantu kita. Jika semua orang melakukan ini, itu akan jauh lebih mudah.

CHOGYAL NAMKHAI NORBU RINPOCHE

Sebelum berbicara dengan guru 
lebih baik untuk mengamati diri sendiri sedikit, 
dengan cara itu Anda 
mungkin menemukan jawabannya sendiri.  

Lebih baik menjadi guru atau master 
bagi diri sendiri daripada 
menugaskan pekerjaan ini kepada orang lain.  

Itulah sebabnya guru, 
dan terutama guru Dzogchen, 
mengajar kita untuk mengamati diri sendiri 
dan menemukan kondisi kita sendiri, 
dan selalu meminta kita semua untuk bertanggung jawab atas diri kita sendiri.  

Mengapa guru menanyakan hal ini ?  

Bukan karena mereka khawatir diganggu, 
tetapi karena mereka tahu betul bahwa 
selalu berpaling kepada guru bukanlah solusi.  

Solusinya terletak pada mengamati diri kita sendiri dan menyelesaikan masalah kita sendiri.  

Kemudian, 
jika kita tidak memiliki cara 
untuk menemukan solusi, 
guru pasti dapat membantu kita.  

Jika semua orang melakukan ini, 
itu akan jauh lebih mudah.

“Jika Anda tidak memiliki kedamaian dalam diri Anda, sangat sulit untuk bekerja demi perdamaian. [Selama perang Vietnam] pemikiran kami adalah, orang lain bukanlah musuh kami. Musuh kami adalah kesalahpahaman, diskriminasi, kekerasan, kebencian, dan kebencian. kemarahan.Dengan wawasan seperti itu, kami melakukan gerakan perdamaian.Jika Anda dipenuhi dengan kemarahan, Anda menciptakan lebih banyak penderitaan untuk diri sendiri daripada orang lain. Ketika Anda dihuni oleh energi kemarahan, Anda ingin menghukum, Anda ingin menghancurkan. Itulah sebabnya mereka yang bijaksana tidak mau berkata apa-apa atau berbuat apa-apa saat amarah masih ada di dalam diri mereka.Jadi Anda mencoba untuk membawa kedamaian ke dalam diri Anda terlebih dahulu. Ketika Anda tenang, ketika Anda jernih, Anda akan melihat bahwa orang lain adalah korban kebingungan, kebencian, kekerasan yang ditularkan oleh masyarakat, oleh orang tua, oleh teman, oleh lingkungan. Ketika Anda dapat melihat itu, kemarahan Anda tidak lagi ada ... " ~Thich Nhat Hanh~

“Jika Anda tidak memiliki kedamaian 
dalam diri Anda, 
sangat sulit untuk bekerja demi perdamaian. 

[Selama perang Vietnam] pemikiran kami adalah, orang lain bukanlah musuh kami. 

Musuh kami adalah 
kesalahpahaman, 
diskriminasi, 
kekerasan, 
kebencian, 
dan kebencian.  
kemarahan.

Dengan wawasan seperti itu, 
kami melakukan gerakan perdamaian.

Jika Anda dipenuhi dengan kemarahan, 
Anda menciptakan lebih banyak penderitaan untuk diri sendiri daripada orang lain.  

Ketika Anda dihuni oleh energi kemarahan, 
Anda ingin menghukum, 
Anda ingin menghancurkan.  

Itulah sebabnya mereka yang bijaksana 
tidak mau berkata apa-apa atau berbuat apa-apa saat amarah masih ada di dalam diri mereka.

Jadi Anda mencoba untuk membawa 
kedamaian ke dalam diri Anda terlebih dahulu.  

Ketika Anda tenang, 
ketika Anda jernih, 
Anda akan melihat bahwa orang lain 
adalah korban 
kebingungan, 
kebencian, 
kekerasan 
yang ditularkan oleh masyarakat, 
oleh orang tua, 
oleh teman, 
oleh lingkungan.  

Ketika Anda dapat melihat itu, 
kemarahan Anda tidak lagi ada ... "

 ~Thich Nhat Hanh~

SUTRA KITAB VIGYAN BHAIRAVA TANTRA PERCAKAPAN SHIWA DAN PARWATI

SUTRA/AYAT: 
DEWI PARWATI BERTANYA: OH SIWA, APAKAH REALITAMU/HAKIKAT MU? APAKAH SEMESTA 
YANG MENAKJUBKAN INI? APAKAH INTINYA? SIAPAKAH PUSAT RODA SEMESTA? 
APAKAH HIDUP YANG DI LUAR SEGALA WUJUD DAN SEKALIGUS MERESAPI 
SEMUA WUJUD? 
BAGAIMANA KITA DAPAT SEPENUHYA MASUK KE DALAMNYA, MELAMPAUI RUANG 
DAN WAKTU, MELAMPAUI SEGALA NAMA DAN MELAMPAUI SEMUA PENJELASAN? 
MOHON HAPUSKANLAH KERAGUANKU! 
SUTRA: 
DEVI ASKS: OH SHIVA, WHAT IS YOUR REALITY? WHAT IS THIS WONDER-FILLED 
UNIVERSE? WHAT CONSTITUTES SEED? WHO CENTERS THE UNIVERSAL WHEEL? 
WHAT IS THIS LIFE BEYOND FORM PERVADING FORMS? HOW MAY WE ENTER IT 
FULLY, ABOVE SPACE AND TIME, NAMES AND DESCRIPTIONS? LET MY DOUBTS BE 
CLEARED! 
Beberapa poin pengantar. Pertama, dunia VIGYANA BHAIRAVA TANTRA bukan 
intelektual, bukan filsafats. Doktrin tidak ada artinya. Vighyana Bhairava Tantra terkait 
dengan metode, dengan teknik - sama sekali bukan prinsip. Kata ‘tantra' berarti teknik, 
metode, jalan. Jadi ini bukan filsafats – catat! Vigyana Bhairava Tantra tidak berurusan 
dengan masalah intelektual dan pertanyaan-pertanyaan. Ia tidak berurusan dengan 
“mengapa”; namun berkaitan dengan "bagaimana"; bukan dengan apakah kebenaran itu, 
tapi bagaimanakah kebenaran dapat dicapai. 
TANTRA berarti teknik. Jadi risalah ini adalah satu risalah ilmiah. Ilmu pengetahuan tidak 
berurusan dengan mengapa, ilmu pengetahuan berurusan dengan bagaimana. Itu lah 
perbedaan mendasar antara filsafat dan ilmu pengetahuan. Filsafat bertanya, "Mengapa
segala sesuatu ini ada (keber-ada-an ini)?" Ilmu pengetahuan bertanya, "Bagaimana 
segala sesuatu ini?" Saat engkau mengajukan pertanyaan, bagaimana? Metode, teknik, 
menjadi penting. Teori menjadi berarti; pengalaman langsung menjadi tujuan utama. 
Tantra adalah ilmu pengetahuan, tantra bukan filsafat. Memahami filsafat itu mudah 
karena hanya kecerdasanmu yang diperlukan. Jika engkau dapat memahami bahasa, jika 
engkau dapat memahami konsep, engkau dapat memahami filsafat. Engkau tidak 
memerlukan perubahan; engkau tidak memerlukan transformasi. Jika engkau tetap dirimu 
yang sekarang, engkau dapat memahami filsafat tetapi tidak dengan tantra. 
Sebaliknya engkau membutuhkan perubahan..., mutasi. Hanya jika engkau berbeda tantra 
dapat dipahami, karena tantra bukan dalil intelektual, tantra adalah pengalaman langsung. 
Kecuali engkau terbuka dan mudah menerima, siap, mudah tersentuh oleh pengalaman, 
tantra tidak akan datang kepadamu. 
Filsafat berhubungan dengan pikiran. Kepalamu saja sudah cukup; totalitasmu tidak 
diperlukan. Tantra membutuhkan totalitasmu. Inilah tantangannya yang lebih dalam. 
Engkau harus ada sepenuhnya di dalamnya. Tidak setengah-setengah, terpisah-pisah. 
Diperlukan sebuah pendekatan yang berbeda, sikap yang berbeda, pikiran berbeda untuk 
menerimanya. Oleh karena itu, Dewi Parwati terdengar seperti mengajukan pertanyaan 
filsafat. 
Tantra dimulai dengan pertanyaan Dewi Parwati. Semua pertanyaan dapat dicerna secara 
filsafat. Sungguh, setiap pertanyaan dapat dicerna dengan dua cara: secara filsafats atau 
secara total, secara intelektual atau eksistensial. Sebagai contoh, jika seseorang 
bertanya, "Apa itu cinta?" Engkau dapat memandangnya secara intelektual, engkau dapat 
mendiskusikan, engkau dapat mengusulkan teori, engkau dapat berdebat untuk sebuah 
dugaan-dugaan/hipotesis. Engkau dapat membuat sistem, sebuah doktrin - dan engkau 
mungkin tetap tidak mengetahui sama sekali apa itu cinta. 
Untuk membuat sebuah doktrin, pengalaman langsung tidak diperlukan. Justru 
sebaliknya, semakin sedikit engkau tahu akan lebih baik karena engkau dapat 
mengajukan doktrin tanpa keraguan. Hanya orang buta yang dengan mudah dapat 
mendefinisikan apa itu cahaya. Bila engkau tidak tahu engkau akan yakin. Ketidaktahuan 
selalu berani; pengetahuan selalu ragu-ragu. Dan semakin engkau tahu, semakin engkau 
merasa bahwa dasar pijakanmu semakin lemah. Semakin engkau tahu, semakin engkau 
merasakan betapa bodohnya dirimu. Dan mereka yang benar-benar bijaksana, mereka 
menjadi bodoh. Mereka menjadi sesederhana dan sepolos anak-anak, selugu dan 
sesederhana mereka yang idiot. 
Semakin sedikit engkau tahu, semakin baik. Untuk menjadi filosofis, untuk menjadi 
dogmatis, menjadi doktriner (berpegang pada doktrin) - itu mudah. Untuk mengatasi 
masalah secara intelektual adalah sangat mudah. Tapi untuk mengatasi masalah secara 
eksistensial - bukan hanya untuk berpikir tentang hal itu, tetapi untuk hidup melaluinya, 
untuk menjalaninya, untuk membiarkan dirimu bertransformasi dengannya - adalah sulit. 
Artinya adalah, untuk mengetahui cinta, seseorang harus mencintai. Hal ini berbahaya 
karena engkau tidak akan pernah sama lagi. Pengalaman ini akan mengubahmu. Saat 
engkau memasuki cinta, engkau memasuki (menjadi) orang yang berbeda. Dan ketika 
engkau keluar darinya engkau tidak akan mampu mengenali wajah lamamu; wajah 
lamamu tidak akan menjadi milikmu lagi. Sebuah akhir dari wajah yang lama akan muncul
Akan ada jarak, akan ada perbedaan, manusia yang lama sudah mati dan manusia baru 
telah datang. Itulah yang dikenal sebagai kelahiran kembali - yang lahir dua kali (dwijati). 
Tantra adalah non-filsafat dan eksistensial. Jadi tentu saja Dewi Parwati mengajukan 
pertanyaan-pertanyaan yang tampak filosofis, tapi Siwa tidak akan menjawab dengan cara 
filosofis. Jadi sebaiknya ini dipahami di awal; Jika tidak, engkau akan bingung, karena 
Siwa tidak akan menjawab satu pertanyaan. Semua pertanyaan yang ditanyakan Dewi 
Parwati, Siwa tidak akan menjawabnya sama sekali. Dan Siwa tetap memiliki jawaban! 
Dan sungguh, Dia yang menjawab semua itu, bukan orang lain - tetapi di alam yang 
berbeda. 
Dewi Parwati bertanya, “Apakah hakikat-Mu, Tuanku?" Dia tidak akan menjawabnya. 
Sebaliknya, Siwa memberikan teknik. Dan jika Dewi Parwati melakukan teknik ini, dia 
akan tahu. Jadi jawabannya agak berputar; tidak langsung. Siwa tidak akan menjawab 
"Siapakah Aku." Dia akan memberikan teknik - dengan melakukannya engkau akan tahu.
Untuk tantra, melakukan adalah mengetahui, dan tidak ada pengetahuan lainnya. Kecuali 
engkau melakukan sesuatu, kecuali engkau berubah, kecuali engkau memiliki perspektif 
yang berbeda untuk melihat, untuk melihatnya, kecuali engkau bergerak dalam dimensi 
yang sama sekali berbeda dari intelek, tidak akan ada jawaban. Semua jawaban-jawaban 
yang dapat diberikan - adalah kebohongan. Semua filsafat adalah kebohongan. Engkau 
mengajukan pertanyaan dan filsafat memberikan jawaban. Itu memuaskanmu atau tidak 
memuaskanmu. Jika memuaskan, engkau menjadi pengikut filsafat itu, tetapi engkau tetap 
sama. Jika tidak memuaskan, engkau pergi mencari beberapa filsafat lain yang akan 
engkau yakini. Tapi engkau tetap sama; engkau tidak tersentuh sama sekali, engkau tidak 
berubah. 
Tidak perduli apakah engkau seorang Hindu atau Islam atau Kristen atau Jaina, tidak ada 
bedanya. Seseorang di balik Hindu atau Islam atau Kristen adalah sama. Berbeda hanya 
kata-kata, atau pakaian. Pria yang pergi ke gereja atau ke kuil atau masjid adalah orang 
yang sama. Hanya berbeda wajah, dan semua itu adalah wajah-wajah yang palsu; 
sekedar topeng. Di balik topeng engkau akan menemukan orang yang sama - kemarahan 
yang sama, keberingasan yang sama, kekerasan yang sama, keserakahan yang sama, 
nafsu yang sama - semuanya sama. Apakah seksualitas Islam berbeda dari seksualitas 
Hindu? Apakah kekerasan Kristen berbeda dari kekerasan Hindu? Semuanya sama! 
Kenyataannya tetap sama; hanya berbeda pakaian. 
Tantra tidak peduli dengan pakaianmu, tantra peduli denganmu. Jika engkau mengajukan 
pertanyaan itu menunjukkan dimana dirimu. Ini menunjukkan bahwa di manapun engkau 
berada engkau tidak bisa melihat; itulah mengapa ada pertanyaan. Seorang pria buta 
bertanya, "Apakah cahaya itu?" Dan filsafat akan mulai menjawab apa itu cahaya. Tantra 
hanya akan mengetahui ini: Jika seseoang bertanya “Apakah cahaya itu?” itu hanya 
menunjukkan bahwa ia buta. Tantra akan mulai mengoperasi mata orang itu, mengubah 
orang itu, sehingga ia bisa melihat. Tantra tidak akan mengatakan apa itu cahaya. Tantra 
akan memberitahu bagaimana caranya mendapatkan penglihatan, bagaimana caranya 
dapat melihat, bagaimana caranya mendapatkan penglihatan. Ketika penglihatan ada, 
jawabannya akan berada di sana. Tantra tidak akan memberikan jawabannya; tantra akan 
memberikan teknik untuk mendapatkan jawabannya. 
Sekarang, jawaban ini tidak akan menjadi intelektual. Jika engkau mengatakan sesuatu 
tentang cahaya kepada orang buta, ini adalah intelektual. Jika si buta itu mampu melihat, 
ini eksistensial. Inilah yang ku maksudkan ketika aku mengatakan tantra adalah
eksistensial. Jadi Siwa tidak akan menjawab pertanyaan-pertanyaan Dewi Parwati, tetapi 
tetap Dia akan menjawab - itu hal pertama. 
Hal kedua: Tantra adalah jenis bahasa yang berbeda. Engkau harus tahu sesuatu tentang 
hal itu sebelum kita masuk ke dalamnya. Semua risalah tantra adalah dialog antara Siwa 
dan Dewi Parwati. Dewi Parwati bertanya dan Siwa menjawab. Semua risalah tantra 
dimulai dengan cara ini. Mengapa? Mengapa metode ini? Hal ini sangat berarti. Ini bukan 
dialog antara guru dan murid, ini adalah dialog antara dua kekasih. Dan tantra 
menandakan bahwa ini hal yang sangat berarti: bahwa ajaran yang lebih dalam tidak 
dapat diberikan kecuali ada cinta diantara keduanya - murid dan guru. Murid dan guru 
harus menjadi pecinta yang mendalam. Hanya dengan seperti itu keadaan yang lebih 
tinggi, keadaan yang melampaui segala sesuatu, dapat diekspresikan, dapat 
terungkapkan. 
Jadi ini adalah bahasa cinta; murid harus bersikap penuh cinta. Tapi bukan hanya itu, 
karena teman bisa menjadi kekasih. Tantra mengatakan murid harus bergerak sebagai 
yang reseptif, kemampuan menerima, sehingga murid harus dalam reseptivitas feminin; 
hanya dengan begitu hal ini dimungkinkan. Engkau tidak perlu menjadi seorang wanita 
untuk menjadi seorang murid, tetapi engkau perlu berada dalam sikap penerimaan yang 
feminim. Ketika Dewi Parwati bertanya, Ini berarti sikap feminim yang bertanya. Mengapa 
penekanan ini ada pada sikap feminim? 
Pria dan wanita tidak hanya memiliki fisik yang berbeda, mereka memiliki psikologis/
kejiwaan yang berbeda. Seksualitas tidak hanya memiliki perbedaan dalam tubuh; tetapi 
juga berbeda dalam psikologi. Pikiran feminim berarti penerimaan - penerimaan total, 
berserah, cinta. Seorang murid membutuhkan psikologi feminim; jika tidak, ia tidak akan 
mampu untuk belajar. Engkau dapat bertanya, tetapi jika engkau tidak terbuka maka 
engkau tidak dapat menerima jawaban. Engkau dapat mengajukan pertanyaan dan masih 
tetap saja tertutup. Maka jawabannya tidak bisa menembus dirimu. Pintumu tertutup; 
engkau mati. Engkau tidak terbuka. 
Sebuah reseptivitas/penerimaan yang feminim berarti seperti-rahim sebuah sarana 
penyerapan di kedalaman batin, sehingga engkau dapat menerima. Dan tidak hanya itu – 
ada lebih banyak hal lagi yang tersirat. Seorang wanita tidak hanya menerima sesuatu, 
saat ia menerima, itu akan menjadi bagian dari tubuhnya. Seperti seorang anak yang 
diterimanya. Seorang wanita akan mengandung; saat ada pembuahan, anak akan 
menjadi bagian dari tubuh femininnya. Bukan sesuatu yang asing. Karena itu telah 
diserapnya. Sekarang si anak akan hidup bukan sebagai sesuatu yang ditambahkan ke 
sang ibu, tapi sebagai bagian, seperti ibu itu sendiri. Dan si anak tidak hanya diterima: 
tubuh feminin menjadi kreatif; sehingga anak mulai tumbuh. 
Seorang murid membutuhkan reseptivitas/penerimaan seperti-rahim. Apapun yang 
diterima tidak akan dikumpulkan sebagai pengetahuan yang mati. Yang engkau terima 
harus tumbuh di dalam dirimu; harus menjadi darah dan tulang di dalam dirimu. Ia harus 
menjadi bagian dari dirimu sekarang. Ia harus tumbuh! Pertumbuhan ini akan 
mengubahmu, akan men-transformasikan-mu - si penerima. Itulah sebabnya tantra 
menggunakan perangkat/tekhnik ini. Setiap risalah dimulai dengan Dewi Parwati 
mengajukan pertanyaan dan Siwa menjawabnya. Dewi Parwati adalah pendamping Siwa, 
bagian feminin-Nya. 
Satu hal lagi .... Psikologi modern saat ini, terutama psikologi mendalam, mengatakan 
bahwa manusia itu adalah keduanya pria dan wanita. Tidak ada yang hanya laki-laki dan
tidak ada yang hanya perempuan; semua orang adalah bi-seksual. Kedua jenis kelamin 
dimiliki oleh setiap orang. Penelitian ini merupakan penelitian yang sangat baru di Barat, 
tetapi untuk tantra ini sudah merupakan salah satu konsep paling dasar yang telah ada 
selama ribuan tahun. Engkau harus melihat beberapa gambar dari Siwa sebagai 
ARDHANARISHWARA - setengah pria, setengah wanita. Tidak ada konsep lain seperti itu 
di seluruh sejarah manusia. Siwa digambarkan sebagai setengah pria, setengah wanita. 
Jadi Dewi Parwati bukan hanya permaisuri, dia adalah setengah bagian dari Siwa. Hanya 
jika seorang murid menjadi setengah bagian yang lain dari guru, adalah mustahil untuk 
menyampaikan ajaran yang lebih tinggi, metode esoteric rahasia. Ketika engkau menjadi 
satu dengan guru di sana tidak akan ada keraguan. Ketika engkau menjadi satu dengan 
guru - sehingga benar-benar satu, begitu mendalam dalam kesatuan - tidak ada argumen, 
tidak ada logika, tidak ada alasan. Ketika engkau hanya menyerap; menjadi seperti rahim. 
Dan kemudian ajaran mulai tumbuh dalam dirimu dan mengubahmu. 
Itulah sebabnya tantra ditulis dalam bahasa cinta. Ada sesuatu yang harus dipahami 
tentang bahasa cinta. Ada dua jenis bahasa: bahasa logika dan bahasa cinta. Ada dua 
perbedaan mendasar di antara keduanya. 
Bahasa logika adalah agresif, argumentatif, keras. Jika aku menggunakan bahasa yang 
logis aku menjadi agresif pada pikiranmu. Aku mencoba untuk meyakinkanmu, untuk 
mengubahmu, membuatmu menjadi boneka. Argumenku adalah “benar” dan engkau 
“salah”. Bahasa logika adalah egosentris: "Aku benar dan engkau salah, jadi aku harus 
membuktikan bahwa aku benar dan engkau salah." Aku tidak peduli denganmu, yang ku 
perdulikan adalah egoku. Ego ku selalu “benar." 
Bahasa cinta benar-benar berbeda. Aku tidak perduli dengan egoku; Aku prihatin 
denganmu. Aku tidak peduli untuk membuktikan sesuatu, untuk memperkuat ego aku. Aku 
perduli untuk membantu engkau. Ini adalah kasih sayang untuk membantumu untuk 
tumbuh, untuk membantumu bertransformasi, untuk membantumu dilahirkan kembali 
sebagai makhluk spiritual. 
Kedua, logika akan selalu menjadi intelektual. Konsep dan prinsip akan signifikan, 
argumen akan signifikan. Dengan bahasa cinta apa yang dikatakan tidak begitu signifikan; 
itu adalah cara mengatakan. Kata-kata adalah wadah, dan wadah tersebut tidak penting; 
isi, pesan yang lebih penting. Ini adalah pembicaraan dari hati-ke-hati, bukan diskusi 
pikiran-ke-pikiran. Ini bukan perdebatan, tapi adalah penyatuan. 
Jadi ini jarang terjadi: Dewi Parwati duduk di pangkuan Siwa dan bertanya, dan Siwa 
menjawab. Ini adalah dialog cinta - tidak ada konflik, seakan-akan Siwa sedang berbicara 
kepada dirinya sendiri. Mengapa penekanannya harus pada cinta - bahasa cinta? Karena 
jika engkau sedang jatuh cinta dengan gurumu, maka seluruh dirimu berubah; menjadi 
berbeda. Maka engkau tidak mendengar kata-kata-nya. Maka engkau hanya 
menyerapnya. Lalu kata-kata menjadi tidak relevan, tidak bermakna. Sungguh, 
keheningan diantara kata-kata menjadi lebih signifikan, lebih bermakna. Apa yang 
dikatakannya dapat menjadi bermakna atau tidak bermakna ... tetapi yang penuh makna 
itu adalah tatapan-nya, mata-nya, sentuhan, gerakan dan gemulai-nya, kasih sayang-nya, 
cinta-nya. 
Itu sebabnya tantra memiliki alat/tekhnik tetap yang tidak bisa diubah, sebuah struktur. 
Setiap risalah dimulai dengan Dewi Parwati bertanya dan Siwa menjawab. Tidak ada 
argumen di sana, tidak ada kata yang sia-sia, tidak ada pemborosan kata-kata. Hanya
pernyataan sederhana mengenai fakta, pesan-pesan singkat tanpa keinginan untuk 
meyakinkan, tetapi hanya untuk sebuah keterhubungan. 
Jika engkau menghadapi Siwa dengan pertanyaan dengan pikiran yang tertutup, Ia tidak 
akan menjawabmu dengan cara ini. Pertama ketertutupanmu harus dihancurkan. Lalu Ia 
harus menjadi agresif. Kemudian prasangkamu, persepsimu harus dihancurkan. Kecuali 
engkau dibersihkan sepenuhnya dari masa lalumu, tidak ada yang bisa diberikan 
kepadamu. Tapi ini tidak begitu dengan permaisuri-Nya Dewi Parwati; dengan Dewi 
Parwati tidak ada masa lalu. 
Ingat, ketika engkau sedang jatuh cinta yang sangat dalam pikiranmu berhenti. Tidak ada 
masa lalu; saat ini menjadi segalanya. Ketika engkau sedang jatuh cinta saat ini adalah 
satu-satunya waktu, sekarang adalah segalanya - tidak ada masa lalu, masa depan. Jadi 
Dewi Parwati benar-benar terbuka. Tidak ada pertahanan - tidak ada yang harus 
dibersihkan, tidak ada yang harus dihancurkan. Tanah telah siap, hanya benih yang harus 
ditanam. Tanah tidak hanya siap, tapi menyambut, menerima, meminta untuk diresapi. 
Sehingga semua perkataan yang akan kita bahas akan menjadi pesan-pesang singkat 
(telegraf). Kata-kata ini hanya sutra (kalimat-kalimat pendek), tetapi masing-masing sutra, 
setiap telegraf pesan dari Siwa senilai Veda, senilai Alkitab, senilai Quran. Setiap kalimat 
bisa menjadi dasar dari kitab suci yang besar. Kitab Suci adalah logika - engkau harus 
mengajukan, membela, berdebat. Di sini tidak ada argumen, hanya pernyataan-
pernyataan cinta yang sederhana. 
Ketiga, arti dari kata VIGYANA BHAIRAVA TANTRA berarti teknik untuk melampaui 
kesadaran. VIGYANA berarti kesadaran, BHAIRAVA berarti keadaan yang melampaui 
kesadaran, dan TANTRA berarti metode: metode untuk melampaui kesadaran. Ini adalah 
doktrin tertinggi - tanpa doktrin apapun (doktrin tanpa doktrin). 
Kita tidak sadar, sehingga semua ajaran agama adalah tentang bagaimana melampaui 
ketidaksadaran, bagaimana menjadi sadar. Misalnya, Krishnamurti, Zen, Mereka semua 
mengajarkan cara membuat kita lebih sadar/terjaga, karena kita semua tidak sadar. Jadi 
bagaimana menjadi lebih sadar, terjaga? Dari ketidaksadaran, bagaimana cara berpindah 
menuju kesadaran? 
Tapi tantra mengatakan bahwa ini adalah dualitas - tidak sadar dan sadar. Jika engkau 
berpindah dari ketidaksadaran ke kesadaran, engkau hanya pindah dari satu dualitas ke 
dualitas lain. Bergerak melampaui keduanya! kecuali engkau bergerak melampaui 
keduanya engkau tidak pernah dapat mencapai akhir, jadi jangan menjadi sadar maupun 
tidak sadar; hanya melampaui, hanya menjadi (just be). Jangan menjadi sadar maupun 
tidak sadar - hanya Menjadi (just be)! Ini adalah melampaui yoga, melampaui Zen, 
melampaui semua ajaran. 
'Vigyana' berarti kesadaran, dan 'Bhairava' adalah istilah yang spesifik, istilah tantra untuk 
“Ia yang telah melampaui”. Itulah sebabnya Siwa adalah Bhairava dan Dewi Parwati 
dikenal sebagai Bhairavi - Mereka yang telah melampaui dualitas. 
Dalam pengalaman kita, hanya cinta yang dapat memberikan secercah pengalaman. Itu 
sebabnya cinta menjadi alat yang sangat dasar untuk menanamkan kebijaksanaan tantra. 
Dalam pengalaman kita, kita dapat mengatakan bahwa hanya cinta melampaui dualitas. 
Ketika dua orang sedang jatuh cinta, semakin dalam mereka bergerak ke dalam cinta, 
semakin berkurang kesadaran bahwa mereka adalah dua, mereka semakin menjadi satu Dan akan sampai pada titik puncaknya ketika dimana mereka hanya kelihatannya saja 
dua. Di dalam mereka adalah satu; dualitas terlampaui. 
Hanya dalam arti ini ketika Yesus mengatakan bahwa "Tuhan adalah cinta" menjadi 
bermakna; tidak sebaliknya. Cinta adalah pengalaman terdekat dengan Tuhan. Ini tidak 
berarti bahwa Tuhan adalah cinta, sebagaimana umat Kristen menafsirkan - bahwa Tuhan 
memiliki cinta seorang ayah untukmu. Omong kosong! “Tuhan adalah cinta" adalah 
pernyataan tantra. Ini adalah berarti bahwa cinta adalah satu-satunya hakikat dalam 
pengalaman kita yang terdekat yang dapat kita capai untuk menuju Tuhan, menuju yang 
ilahi. Mengapa? Karena dalam cinta kesatuan dirasakan. Tubuh tetap dua, tapi sesuatu 
yang melampaui tubuh bergabung dan menjadi satu. 
Itulah mengapa ada begitu banyak orang mendambakan hubungan seks. Yang 
didambakan sebenarnya adalah kesatuan, tapi kesatuan itu bukan seksual. Dalam 
hubungan seks dua tubuh hanya menipu perasaan menjadi satu, tetapi mereka tidak satu, 
mereka hanya terhubung bersama-sama. Tapi untuk satu saat dua tubuh saling 
melupakan satu sama lain, dan kesatuan fisik tertentu dirasakan. Mendambakan ini tidak 
buruk, tapi berhenti disitu adalah berbahaya. Mendambakan sex ini menunjukkan 
dorongan lebih dalam untuk merasakan kesatuan. 
Dalam cinta, di keadaan yang lebih tinggi, bagian yang terdalam dari diri kita bergerak, 
menyatu dengan sang kekasih, dan ada perasaan kesatuan disana. Dualitas lenyap. 
Hanya dalam cinta yang non-dualistik seperti ini kita dapat miliki secercah pengalaman 
seperti apa keadaan Bhairava itu. Kita dapat mengatakan bahwa keadaan Bhairava 
adalah cinta mutlak tanpa pernah kembali lagi, tidak ada kejatuhan kembali dari puncak 
cinta. Ia akan tetap ada di puncak. 
Kita telah mengatakan tempat tinggal Siwa di Kailash. Itu hanya simbolik: Kailash adalah 
puncak tertinggi, puncak paling suci. Kita telah membuatnya sebagai tempat tinggal Siwa. 
Kita bisa pergi ke sana tapi kita harus turun lagi, itu tidak dapat menjadi tempat tinggal 
kita. Kita bisa pergi berziarah. Ini adalah TIRTAYATRA - ziarah, perjalanan. Untuk sesaat 
kita dapat menyentuh puncak tertinggi itu; lalu kita harus turun kembali. 
Di dalam cinta perjalaan suci ini terjadi, tetapi tidak untuk semua karena hampir tidak ada 
yang bergerak melampaui seks. Sehingga kita harus hidup di lembah, lembah gelap. 
Kadang-kadang seseorang bergerak ke puncak cinta, tapi kemudian harus jatuh kembali 
karena itu begitu memusingkan. Cinta itu sangat tinggi dan engkau sangat rendah, dan 
karena itu sangat sulit untuk tinggal di sana. Mereka yang memiliki cinta, mereka tahu 
bagaimana sulitnya untuk terus mencintai. Kita harus kembali lagi dan lagi. Ini adalah 
tempat tinggal Siwa. Ia tinggal di sana; di ketinggian cinta adalah tempat tinggal-Nya. 
Seorang Bhairava tinggal di dalam cinta; Itulah tempat tinggal-nya. Ketika aku 
mengatakan Itu adalah tempat tinggal-nya, yang kumaksud sekarang ia bahkan tidak 
menyadari cinta - Karena jika engkau tinggal di Kailash engkau tidak akan menyadari 
bahwa ini adalah Kailash, ini adalah puncaknya. Puncak menjadi polos. Siwa tidak 
menyadari cinta. Kita menyadari cinta karena kita hidup di yang bukan-cinta. Dan karena 
kontras itu kita merasakan cinta. Siwa adalah cinta. Keadaan Bhairava berarti seseorang 
telah menjadi cinta, bukan mencintai; seseorang harus menjadi cinta, tinggal di puncak. 
Puncak itu telah menjadi tempat tinggal-nya. 
Bagaimana membuat puncak tertinggi ini menjadi mungkin: melampaui dualitas, 
melampaui ketidaksadaran, melampaui kesadaran, melampaui tubuh dan melampaui jiwa, 
melampaui dunia dan melampaui apa yang disebut MOKHSA - pembebasan? Bagaimana

untuk mencapai puncak ini? Tekniknya adalah tantra. Tapi tantra adalah murni teknik, 
sehingga akan menjadi sulit untuk memahaminya. Pertama mari kita memahami 
pertanyaannya, apa yang ditanyakan Dewi Parwati. 
OH SIWA, APAKAH REALITA/HAKIKAT MU? Mengapa pertanyaan ini? Engkau juga 
dapat mengajukan pertanyaan ini, tapi itu tidak akan membawa makna yang sama. Jadi 
cobalah memahami mengapa Dewi Parwati bertanya, APAKAH REALITA/HAKIKAT MU? 
Dewi Parwati berada dalam cinta yang mendalam. Ketika engkau berada dalam cinta yang 
mendalam, untuk pertama kalinya engkau mengalami realitas batin. Kemudian Siwa 
bukanlah bentuk, bukanlah tubuh. Ketika engkau sedang jatuh cinta, tubuh kekasihmu 
menghilang, lenyap. Bentuknya menjadi tiada dan yang tak berbentuk menjadi terungkap. 
Engkau menghadapi jurang, menghadapi kedalaman kekosongan. Itulah sebabnya kita 
begitu takut kepada cinta. Kita dapat menghadapi tubuh, kita dapat menghadapi wajah, 
kita dapat menghadapi bentuk, tapi kita takut untuk menghadapi jurang kekosongan. 
Jika engkau mencintai seseorang, jika engkau benar-benar mencintai, tubuh-nya pasti 
akan lenyap. Dalam beberapa saat klimaks, pada puncaknya, wujud akan menguap, dan 
melalui yang tercinta engkau akan memasuki yang tak berwujud. Itulah mengapa kita takut 
- itu adalah seperti jatuh ke dalam jurang yang tak bertepi. Jadi pertanyaan ini bukan 
hanya pertanyaan sederhana: OH SIWA, APAKAH REALITA/HAKIKAT MU? 
Dewi Parwati pasti telah jatuh cinta kepada wujudnya. Hal ini dimulai dengan cara itu. Dia 
pasti telah mencintai pria ini sebagai seorang pria, dan sekarang ketika cinta telah menjadi 
dewasa, ketika cinta telah berbunga, pria ini menghilang. Dia menjadi tak berwujud. Kini 
pria ini tidak dapat ditemukan dimana-mana. OH SIWA, APAKAH REALITA/HAKIKAT MU? 
Ini adalah pertanyaan yang ditanyakan dalam kondisi cinta yang sangat kuat dan 
mendalam. Dan ketika pertanyaan diajukan, itu akan menjadi berbeda dalam pikiran yang 
bertanya. 
Jadi buatlah situasi, pertanyaan dalam pikiranmu. Dewi Parwati harus menjadi bingung - 
Siwa telah menghilang. Ketika cinta mencapai puncak sang kekasih akan lenyap. 
Mengapa hal ini terjadi? Hal ini terjadi karena sesungguhnya, semua orang tidak 
berwujud. Engkau bukan tubuh. Engkau bergerak sebagai tubuh, engkau hidup sebagai 
tubuh, tetapi engkau bukan tubuh. Ketika kita melihat seseorang dari luar, ia adalah tubuh. 
Cinta menembus kedalam. Kemudian kita tidak melihat seseorang dari luarnya. Cinta 
dapat melihat seseorang sebagaimana orang tersebut dapat melihat dirinya sendiri dari 
dalam. Kemudian wujud pun lenyap. 
Seorang biksu Zen, Rinzai, mencapai pencerahan-nya, dan hal pertama yang ia tanyakan 
adalah, "Di mana tubuhku? Kemana tubuhku telah pergi?” Dan ia mulai mencari. Dia 
memanggil murid-murid-nya dan berkata, "Pergi dan cari tahu di mana tubuhku. Aku telah 
kehilangan tubuhku.“ 
Ia telah memasuki yang tak berwujud. Engkau juga keber-ada-an yang tak berwujud, tapi 
engkau mengetahui dirimu sendiri tidak secara langsung, tapi melalui mata orang lain. 
Engkau mengetahui melalui cermin. Kadang, sambil melihat di cermin, engkau menutup 
mata dan berpikir, bermeditasi: jika tidak ada cermin, bagaimana engkau dapat 
mengetahui wajahmu? Jika tidak ada cermin, maka tidak akan ada wajah. Engkau tidak 
memiliki wajah; cermin yang memberikanmu wajah. Coba pikirkan dunia dimana tidak ada 
cermin. Engkau sendirian - tidak ada cermin sama sekali, bahkan mata orang lain tidak 
dapat dijadikan cermin. Engkau sendirian di sebuah pulau sepi; tidak ada yang bisa 
mencerminkanmu. Maka apakah engkau masih akan memiliki wajah? Atau apakah engkau masih akan memiliki tubuh? Engkau tidak dapat memilikinya lagi. Engkau tidak 
dapat memilikinya sama sekali. Kita mengetahui diri kita sendiri hanya melalui orang lain, 
dan yang lain hanya bisa mengetahui bentuk luar. Itulah sebabnya kita menjadi 
teridentifikasi dengannya. 
Mistikus Zen yang lain, Hui-Hai pernah mengatakan kepada murid-murid-nya, "Ketika 
engkau telah kehilangan kepalamu dalam meditasi, segera datang kepadaku. Ketika 
engkau kehilangan kepalamu, segera datang kepadaku. Ketika engkau mulai merasa 
tidak memiliki kepala, jangan takut; segera datang kepadaku. Ini adalah saat yang tepat. 
Sekarang sesuatu dapat diajarkan kepadamu. "Dengan masih memiliki kepala, tidak ada 
ajaran yang mungkin. Kepala selalu ada di antaranya.