Sabtu, 13 Juli 2024

INI CARA MEMPRAKTIKKAN MEDITASI SAMATHA(KONSENTRASI) DAN MEDITASI VIPASSANA(RELAKSASI)

 INI CARA MEMPRAKTIKKAN MEDITASI SAMATHA(KONSENTRASI) DAN MEDITASI VIPASSANA(RELAKSASI)

 meskipun Vipassana bisa melibatkan berbagai objek, pengamatan dalam satu momen tetap terfokus pada satu objek. Berikut penjelasan lebih lanjut untuk memperjelas perbedaan antara Samatha dan Vipassana dalam praktik:


Samatha

- **Praktik**: 

  - Fokus pada satu objek yang tetap dan stabil (seperti napas) untuk seluruh sesi meditasi.

  - Tujuannya adalah untuk mengembangkan konsentrasi mendalam dan mencapai keadaan jhana, di mana pikiran menjadi sangat tenang dan stabil.


- **Pengalaman**: 

  - Pikiran diarahkan ke satu objek dan dijaga agar tetap di sana. Jika terganggu, perhatian segera dikembalikan ke objek tersebut.

  - Pengalaman meditasi menjadi lebih tenang, terpusat, dan tidak banyak variasi dalam objek yang diamati.


Vipassana

- **Praktik**: 

  - Mulai dengan fokus pada satu objek, seperti napas, tetapi kemudian melibatkan pengamatan fenomena lain yang muncul dalam kesadaran.

  - Pengamatan dilakukan secara bergantian sesuai dengan apa yang muncul dalam momen tersebut, seperti sensasi tubuh, pikiran, emosi, atau suara.


- **Pengalaman**: 

  - Pengamatan bisa berubah dari satu objek ke objek lain sesuai dengan perubahan dalam pengalaman saat ini.

  - Jika napas menjadi objek perhatian, fokus diarahkan pada napas sampai muncul fenomena lain yang lebih menonjol (seperti rasa sakit atau pikiran), lalu perhatian bergeser ke fenomena tersebut.

  - Meskipun berbagai fenomena diamati, pada satu waktu perhatian tetap pada satu objek saja.


 Inti Perbedaan dalam Pengalaman Meditatif

- **Samatha**: Tetap fokus pada satu objek untuk mencapai konsentrasi mendalam. Objek tidak berubah kecuali terganggu, dan kemudian perhatian dikembalikan ke objek utama.

- **Vipassana**: Mengamati perubahan fenomena dalam kesadaran, tetapi pada satu waktu hanya satu objek yang diamati dengan penuh perhatian. Fokus bisa bergeser dari napas ke sensasi tubuh, pikiran, atau emosi, tergantung apa yang paling menonjol pada saat itu.


 Contoh dalam Praktik Vipassana:

1. **Mengamati Napas**: Anda mulai dengan memperhatikan napas. Ketika napas menjadi objek utama, Anda tetap pada napas sampai ada sesuatu yang lebih menonjol muncul.

2. **Perubahan Objek**: Jika ada rasa sakit di tubuh, perhatian beralih ke sensasi rasa sakit tersebut. Anda mengamati rasa sakit dengan penuh perhatian.

3. **Kembali ke Napas**: Setelah rasa sakit mereda atau tidak lagi menjadi fokus utama, perhatian bisa kembali ke napas atau objek lain yang muncul.


Dengan demikian, dalam Vipassana, meskipun perhatian bisa berganti-ganti objek, dalam satu momen, perhatian tetap hanya pada satu objek. Tujuan akhirnya adalah memahami sifat ketidakkekalan, penderitaan, dan ketanpaakuan dari semua fenomena yang diamati.

Jumat, 12 Juli 2024

DI ARAB KUNO,ALLAH ADALAH NAMA DEWA TERTINGGI DI ATAS TIGA DEWA UTAMA,SAMA PERSIS DENGAN KONSEP 3 DEWA HINDU YANG DI ATASNYA ADA SANG HYANG IDA WIDHI WASE(BALI) DEVI AADI PARASHAKTI(HINDU INDIA)

 DI ARAB KUNO,ALLAH ADALAH NAMA DEWA TERTINGGI DI ATAS TIGA DEWA UTAMA,SAMA PERSIS DENGAN KONSEP 3 DEWA HINDU YANG DI ATASNYA ADA SANG HYANG IDA WIDHI WASE(BALI) DEVI AADI PARASHAKTI(HINDU INDIA)

Dalam agama Hindu, terdapat konsep Trimurti, yang terdiri dari tiga dewa utama: Brahma, Wisnu, dan Siwa. Ketiganya memiliki fungsi masing-masing dalam siklus penciptaan, pemeliharaan, dan kehancuran alam semesta. Di atas Trimurti, ada konsep Dewa Tertinggi yang seringkali diidentifikasi dengan berbagai nama tergantung pada tradisi dan aliran Hindu yang berbeda. Dalam beberapa tradisi, Dewa Tertinggi disebut sebagai Brahman, Parabrahman, atau dalam konsep Bali, dikenal sebagai Ida Sang Hyang Widhi Wasa atau Adi Parashakti (dewi tertinggi dalam beberapa tradisi).


 Trimurti dalam Hindu:

1. **Brahma**:

   - Fungsi: Pencipta alam semesta.

   - Simbolisme: Representasi dari unsur penciptaan dan kebangkitan.


2. **Wisnu**:

   - Fungsi: Pemelihara dan pelindung alam semesta.

   - Simbolisme: Representasi dari unsur pemeliharaan, perlindungan, dan kesejahteraan.


3. **Siwa**:

   - Fungsi: Penghancur atau transformator alam semesta.

   - Simbolisme: Representasi dari unsur penghancuran yang membawa regenerasi dan perubahan.


Konsep Dewa Tertinggi:

- **Ida Sang Hyang Widhi Wasa**: Dalam tradisi Hindu Bali, Ida Sang Hyang Widhi Wasa adalah sebutan untuk Dewa Tertinggi yang melampaui dan mengatur ketiga dewa Trimurti. Beliau adalah Tuhan Yang Maha Esa, yang mencakup segala aspek penciptaan, pemeliharaan, dan penghancuran.


- **Adi Parashakti**: Dalam beberapa tradisi Hindu, terutama Shakta, Adi Parashakti adalah dewi tertinggi yang mencakup semua aspek ilahi dan mengendalikan Trimurti. Dia adalah sumber dari semua energi dan kekuatan dalam alam semesta.


Paralel dengan Tradisi Arab Kuno:

Dalam tradisi Arab pra-Islam, konsep serupa dapat dilihat dengan adanya Allah sebagai dewa tertinggi di atas dewa-dewa lainnya seperti Al-Lat, Al-Uzza, dan Manat:


1. **Al-Lat**:

   - Fungsi: Dewi kesuburan dan pelindung kota.

   - Simbolisme: Energi penciptaan dan keberlanjutan.


2. **Al-Uzza**:

   - Fungsi: Dewi kekuatan dan perlindungan.

   - Simbolisme: Energi pemeliharaan dan perlindungan.


3. **Manat**:

   - Fungsi: Dewi nasib dan kematian.

   - Simbolisme: Energi transformasi dan perubahan.


Allah sebagai Dewa Tertinggi:

- **Allah**: Dalam tradisi Arab pra-Islam, Allah sering kali dianggap sebagai dewa tertinggi yang mengatur alam semesta dan merupakan sumber dari semua kekuatan dan penciptaan. Mirip dengan konsep Hindu di mana Ida Sang Hyang Widhi Wasa atau Adi Parashakti berada di atas Trimurti, Allah berada di atas dewa-dewa lainnya dalam sistem kepercayaan Arab pra-Islam.


Kesimpulan:

Baik dalam tradisi Hindu maupun Arab pra-Islam, terdapat konsep hierarki dewa-dewa dengan satu entitas tertinggi yang mengatur dan melampaui dewa-dewa lainnya. Dalam Hindu, ini diwakili oleh Ida Sang Hyang Widhi Wasa atau Adi Parashakti di atas Trimurti, sementara dalam tradisi Arab pra-Islam, Allah adalah dewa tertinggi di atas dewa-dewa lainnya seperti Al-Lat, Al-Uzza, dan Manat.

Persamaan antara Teknik Meditasi Samatha dan Zikir Sufi

 Persamaan antara Teknik Meditasi Samatha dan Zikir Sufi

Meditasi Samatha dan zikir Sufi adalah dua praktik spiritual yang berbeda dalam tradisi dan istilah, tetapi memiliki kesamaan dalam tujuan dan metode. Keduanya menggunakan satu objek sebagai fokus untuk memusatkan pikiran dan mencapai ketenangan batin. Berikut adalah pembahasan lebih rinci tentang persamaan ini, serta hubungan dengan penggunaan objek-objek agama lainnya dalam berbagai tradisi.


 Meditasi Samatha


Meditasi Samatha adalah teknik meditasi dalam tradisi Buddhis yang bertujuan untuk menenangkan pikiran. Kata "Samatha" berasal dari bahasa Pali yang berarti "ketenangan" atau "keseimbangan." Dalam praktik ini, seorang meditator memilih satu objek, seperti napas, lilin, atau mantra, dan berkonsentrasi sepenuhnya pada objek tersebut. Tujuannya adalah untuk menjaga pikiran tetap terfokus dan tidak terganggu oleh pikiran liar. Dengan latihan yang konsisten, meditator mencapai keadaan ketenangan batin yang mendalam.


 Zikir Sufi


Zikir dalam tradisi Sufi adalah praktik mengingat Tuhan melalui pengulangan nama-nama Tuhan atau doa tertentu. Zikir bisa dilakukan secara individu atau dalam kelompok, dan sering kali melibatkan pengulangan kata-kata seperti "Allah," "La ilaha illallah" (Tiada Tuhan selain Allah), atau doa-doa lainnya. Seperti meditasi Samatha, zikir berfungsi untuk memusatkan pikiran pada satu titik dan menghindari gangguan pikiran liar, dengan tujuan mencapai keadaan kesadaran spiritual yang lebih tinggi dan kedekatan dengan Tuhan.


Kesamaan Teknik


1. **Fokus pada Satu Objek**: Baik dalam meditasi Samatha maupun zikir Sufi, terdapat penggunaan satu objek untuk memusatkan pikiran. Dalam Samatha, objek tersebut bisa berupa napas, lilin, atau mantra. Dalam zikir Sufi, objeknya adalah pengulangan nama Tuhan atau doa.

   

2. **Tujuan Ketenangan Pikiran**: Kedua praktik ini bertujuan untuk menenangkan pikiran dan menghindari gangguan dari pikiran liar. Dengan menjaga fokus pada satu objek, praktisi dapat mencapai ketenangan batin dan konsentrasi yang mendalam.

   

3. **Pencapaian Spiritual**: Baik meditasi Samatha maupun zikir Sufi mengarah pada pencapaian spiritual yang lebih tinggi. Dalam Buddhisme, ini bisa berarti mencapai jhana atau tingkatan meditasi yang lebih dalam. Dalam Sufisme, ini berarti kedekatan dengan Tuhan dan pengalaman spiritual yang mendalam(istighroq,tenggelam kedalam keesaan tuhan).


 Hubungan dengan Objek-Objek Agama Lain


Dalam berbagai tradisi agama, penggunaan objek fisik sebagai alat bantu spiritual adalah hal yang umum. Berikut beberapa contoh dan alasan di balik penggunaannya:


1. **Kaabah dalam Islam**: Umat Islam menghadap ke Kaabah saat salat sebagai bentuk ketaatan dan kesatuan arah. Kaabah adalah simbol kehadiran Tuhan dan pusat spiritual umat Islam.


2. **Patung dalam Hindu dan Buddha**: Dalam agama Hindu dan Buddha, patung dewa-dewi atau Buddha digunakan sebagai fokus meditasi dan ibadah. Patung-patung ini membantu memusatkan pikiran pada aspek ilahi dan mengingatkan pada nilai-nilai spiritual.


3. **Salib dalam Kristen**: Umat Kristen menggunakan salib sebagai simbol pengorbanan dan kasih Tuhan. Salib membantu umat Kristen memusatkan pikiran pada Yesus Kristus dan pengorbanannya untuk umat manusia.


JADI KALO ADA UMAT BERAGAMA MASIH RIBUT SOAL PATUNG KAKBAH CANDI POHON

ITU UMMAT MASIH KELAS KANAK KANAK DAN MASIH BALITA.BELUM PAHAM AGAMANYA SENDIRI.APALAGI SECARA DOGMATIS DOMINAN KE SALAH SATU OBJEK DAN MENAFIKAN OBJEK LAIN.

Semua itu hanya objek.ALAT BANTU saja Untuk memudahkan mengenal tuhan.tidak perlu mendewa dewakan ALAT BANTU.itu benda mati benda biasa yang sama seperti nasi dan tanah.dan hanya alat bantu DI AWAL SAJA.karena di awal pendakian pikiran masih memilah memilih simbol simbol yang di anggap suci dan tidak suci.masih ranah dualitas maka dibuatlah simbol dualitas yg cenderung bernuansa spiritual.


Fungsi Objek-Objek Spiritual


Objek-objek spiritual ini, baik itu Kaabah, patung, atau salib, berfungsi sebagai alat bantu untuk memusatkan pikiran dan mencapai keadaan batin yang lebih tenang dan terfokus. Benda-benda ini dipilih karena mereka memiliki makna spiritual yang mendalam dan berkaitan dengan kehadiran Tuhan dalam pikiran umat.


1. **Pengaitan dengan Tuhan**: Objek-objek ini dipilih karena mereka membawa asosiasi yang kuat dengan Tuhan atau aspek ilahi. Ketika pikiran terfokus pada objek-objek ini, mereka membantu mengarahkan pikiran lebih dekat kepada Tuhan.


2. **Sarana untuk Transendensi**: Meskipun awalnya digunakan sebagai alat bantu, tujuan akhir dari praktik-praktik ini adalah melampaui ketergantungan pada objek. Praktisi yang sudah mencapai tingkat spiritual tertentu bisa menggunakan objek apapun, atau bahkan tanpa objek, karena mereka telah melampaui pengaruh bentuk fisik.


 Contoh Ekstrim dalam Sufisme


Dalam beberapa kasus, para Sufi yang telah mencapai tingkat spiritual yang tinggi dapat menggunakan objek-objek yang tampaknya tidak konvensional atau bahkan bertentangan dengan norma-norma spiritual. Misalnya, ada kisah tentang seorang kiai yang shalat dengan foto wanita berpakaian bikini di depannya. Hal ini menunjukkan bahwa bagi seseorang yang telah melampaui pengaruh bentuk fisik, objek apapun dapat digunakan karena mereka tidak lagi terpengaruh oleh rupa atau bentuk.


Meditasi Samatha dan zikir Sufi adalah dua teknik yang berbeda dalam tradisi, tetapi memiliki persamaan dalam penggunaan satu objek untuk memusatkan pikiran dan mencapai ketenangan batin. Penggunaan objek-objek spiritual dalam berbagai tradisi agama menunjukkan bahwa benda-benda ini berfungsi sebagai alat bantu untuk memusatkan pikiran pada hal-hal yang bersifat ilahi. Meskipun objek tersebut penting pada tahap awal, tujuan akhir adalah mencapai keadaan batin yang melampaui ketergantungan pada objek fisik dan meraih kedekatan yang lebih dalam dengan Tuhan.

Sabtu, 06 Juli 2024

Kalender jawa adalah saka

 Kalender Gabungan SAKA dan Masehi 2024 (Caitra 1946 Saka)


**Maret 2024:**

- 1 Maret 2024 - 10 Phalguna 1945

- 2 Maret 2024 - 11 Phalguna 1945

- 3 Maret 2024 - 12 Phalguna 1945

- 4 Maret 2024 - 13 Phalguna 1945

- 5 Maret 2024 - 14 Phalguna 1945

- 6 Maret 2024 - 15 Phalguna 1945

- 7 Maret 2024 - 16 Phalguna 1945

- 8 Maret 2024 - 17 Phalguna 1945

- 9 Maret 2024 - 18 Phalguna 1945

- 10 Maret 2024 - 19 Phalguna 1945

- 11 Maret 2024 - 20 Phalguna 1945

- 12 Maret 2024 - 21 Phalguna 1945

- 13 Maret 2024 - 22 Phalguna 1945

- 14 Maret 2024 - 23 Phalguna 1945

- 15 Maret 2024 - 24 Phalguna 1945

- 16 Maret 2024 - 25 Phalguna 1945

- 17 Maret 2024 - 26 Phalguna 1945

- 18 Maret 2024 - 27 Phalguna 1945

- 19 Maret 2024 - 28 Phalguna 1945

- 20 Maret 2024 - 29 Phalguna 1945

- 21 Maret 2024 - 1 Caitra 1946

- 22 Maret 2024 - 2 Caitra 1946

- 23 Maret 2024 - 3 Caitra 1946

- 24 Maret 2024 - 4 Caitra 1946

- 25 Maret 2024 - 5 Caitra 1946

- 26 Maret 2024 - 6 Caitra 1946

- 27 Maret 2024 - 7 Caitra 1946

- 28 Maret 2024 - 8 Caitra 1946

- 29 Maret 2024 - 9 Caitra 1946

- 30 Maret 2024 - 10 Caitra 1946

- 31 Maret 2024 - 11 Caitra 1946


**April 2024:**

- 1 April 2024 - 12 Caitra 1946

- 2 April 2024 - 13 Caitra 1946

- 3 April 2024 - 14 Caitra 1946

- 4 April 2024 - 15 Caitra 1946

- 5 April 2024 - 16 Caitra 1946

- 6 April 2024 - 17 Caitra 1946

- 7 April 2024 - 18 Caitra 1946

- 8 April 2024 - 19 Caitra 1946

- 9 April 2024 - 20 Caitra 1946

- 10 April 2024 - 21 Caitra 1946

- 11 April 2024 - 22 Caitra 1946

- 12 April 2024 - 23 Caitra 1946

- 13 April 2024 - 24 Caitra 1946

- 14 April 2024 - 25 Caitra 1946

- 15 April 2024 - 26 Caitra 1946

- 16 April 2024 - 27 Caitra 1946

- 17 April 2024 - 28 Caitra 1946

- 18 April 2024 - 29 Caitra 1946

- 19 April 2024 - 30 Caitra 1946

- 20 April 2024 - 31 Caitra 1946

- 21 April 2024 - 32 Caitra 1946

- 22 April 2024 - 33 Caitra 1946

- 23 April 2024 - 34 Caitra 1946

- 24 April 2024 - 35 Caitra 1946

- 25 April 2024 - 36 Caitra 1946

- 26 April 2024 - 37 Caitra 1946

- 27 April 2024 - 38 Caitra 1946

- 28 April 2024 - 39 Caitra 1946

- 29 April 2024 - 1 Vaisakha 1946

- 30 April 2024 - 2 Vaisakha 1946


**Mei 2024:**

- 1 Mei 2024 - 3 Vaisakha 1946

- 2 Mei 2024 - 4 Vaisakha 1946

- 3 Mei 2024 - 5 Vaisakha 1946

- 4 Mei 2024 - 6 Vaisakha 1946

- 5 Mei 2024 - 7 Vaisakha 1946

- 6 Mei 2024 - 8 Vaisakha 1946

- 7 Mei 2024 - 9 Vaisakha 1946

- 8 Mei 2024 - 10 Vaisakha 1946

- 9 Mei 2024 - 11 Vaisakha 1946

- 10 Mei 2024 - 12 Vaisakha 1946

- 11 Mei 2024 - 13 Vaisakha 1946

- 12 Mei 2024 - 14 Vaisakha 1946

- 13 Mei 2024 - 15 Vaisakha 1946

- 14 Mei 2024 - 16 Vaisakha 1946

- 15 Mei 2024 - 17 Vaisakha 1946

- 16 Mei 2024 - 18 Vaisakha 1946

- 17 Mei 2024 - 19 Vaisakha 1946

- 18 Mei 2024 - 20 Vaisakha 1946

- 19 Mei 2024 - 21 Vaisakha 1946

- 20 Mei 2024 - 22 Vaisakha 1946

- 21 Mei 2024 - 23 Vaisakha 1946

- 22 Mei 2024 - 24 Vaisakha 1946

- 23 Mei 2024 - 25 Vaisakha 1946

- 24 Mei 2024 - 26 Vaisakha 1946

- 25 Mei 2024 - 27 Vaisakha 1946

- 26 Mei 2024 - 28 Vaisakha 1946

- 27 Mei 2024 - 29 Vaisakha 1946

- 28 Mei 2024 - 30 Vaisakha 1946

- 29 Mei 2024 - 31 Vaisakha 1946

- 30 Mei 2024 - 1 Jyaistha 1946

- 31 Mei 2024 - 2 Jyaistha 1946


**Juni 2024:**

- 1 Juni 2024 - 3 Jyaistha 1946

- 2 Juni 2024 - 4 Jyaistha 1946

- 3 Juni 2024 - 5 Jyaistha 1946

- 4 Juni 2024 - 6 Jyaistha 1946

- 5 Juni 2024 - 7 Jyaistha 1946

- 6 Juni 2024 - 8 Jyaistha 1946

- 7 Juni 2024 - 9 Jyaistha 1946

- 8 Juni 2024 - 10 Jyaistha 1946

- 9 Juni 2024 - 11 Jyaistha 1946

- 10 Juni 2024 - 12 Jyaistha 1946

- 11 Juni 2024 - 13 Jyaistha 1946

- 12 Juni 2024 - 14 Jyaistha 1946

- 13 Juni 2024 - 15 Jyaistha 1946

- 14 Juni 2024 - 16 Jyaistha 1946

- 15 Juni 2024 - 17 Jyaistha 1946

- 16 Juni 2024 - 18 Jyaistha 1946

- 17 Juni 2024 - 19 Jyaistha 1946

- 18 Juni 2024 - 20 Jyaistha 1946

- 19 Juni 2024 - 21 Jyaistha 1946

- 20 Juni 2024 - 22 Jyaistha 1946

- 21 Juni 2024 - 23 Jyaistha 1946

- 22 Juni 2024 - 24 Jyaistha 1946

- 23 Juni 2024 - 25 Jyaistha 1946

- 24 Juni 2024 - 26 Jyaistha 1946

- 25 Juni 2024 - 27 Jyaistha 1946

- 26 Juni 2024 - 28 Jyaistha 1946

- 27 Juni 2024 - 29 Jyaistha 1946

- 28 Juni 2024 - 30 Jyaistha 1946

- 29 Juni 2024 - 31 Jyaistha 1946

- 30 Juni 2024 - 1 Ashadha 1946


**Juli 2024:**

- 1 Juli 2024 - 2 Ashadha 1946

- 2 Juli 2024 - 3 Ashadha 1946

- 3 Juli 2024 - 4 Ashadha 1946

- 4 Juli 2024 - 5 Ashadha 1946

- 5 Juli 2024 - 6 Ashadha 1946

- 6 Juli 2024 - 7 Ashadha 1946

- 7 Juli 2024 - 8 Ashadha 1946

- 8 Juli 2024 - 9 Ashadha 1946

- 9 Juli 2024 - 10 Ashadha 1946

- 10 Juli 2024 - 11 Ashadha 1946

- 11 Juli 2024 - 12 Ashadha 1946

- 12 Juli 2024 - 13 Ashadha 1946

- 13 Juli 2024 - 14 Ashadha 1946

- 14 Juli 2024 - 15 Ashadha 1946

- 15 Juli 2024 - 16 Ashadha 1946

- 16 Juli 2024 - 17 Ashadha 1946

- 17 Juli 2024 - 18 Ashadha 1946

- 18 Juli 2024 - 19 Ashadha 1946

- 19 Juli 2024 - 20 Ashadha 1946

- 20 Juli 2024 - 21 Ashadha 1946

- 21 Juli 2024 - 22 Ashadha 1946

- 22 Juli 2024 - 23 Ashadha 1946

- 23 Juli 2024 - 24 Ashadha 1946

- 24 Juli 2024 - 25 Ashadha 1946

- 25 Juli 2024 - 26 Ashadha 1946

- 26 Juli 2024 - 27 Ashadha 1946

- 27 Juli 2024 - 28 Ashadha 1946

- 28 Juli 2024 - 29 Ashadha 1946

- 29 Juli 2024 - 1 Shravana 1946

- 30 Juli 2024 - 2 Shravana 1946

- 31 Juli 2024 - 3 Shravana 1946


**Agustus 2024:**

- 1 Agustus 2024 - 4 Shravana 1946

- 2 Agustus 2024 - 5 Shravana 1946

- 3 Agustus 2024 - 6 Shravana 1946

- 4 Agustus 2024 - 7 Shravana 1946

- 5 Agustus 2024 - 8 Shravana 1946

- 6 Agustus 2024 - 9 Shravana 1946

- 7 Agustus 2024 - 10 Shravana 1946

- 8 Agustus 2024 - 11 Shravana 1946

- 9 Agustus 2024 - 12 Shravana 1946

- 10 Agustus 2024 - 13 Shravana 1946

- 11 Agustus 2024 - 14 Shravana 1946

- 12 Agustus 2024 - 15 Shravana 1946

- 13 Agustus 2024 - 16 Shravana 1946

- 14 Agustus 2024 - 17 Shravana 1946

- 15 Agustus 2024 - 18 Shravana 1946

- 16 Agustus 2024 - 19 Shravana 1946

- 17 Agustus 2024 - 20 Shravana 1946

- 18 Agustus 2024 - 21 Shravana 1946

- 19 Agustus 2024 - 22 Shravana 1946

- 20 Agustus 2024 - 23 Shravana 1946

- 21 Agustus 2024 - 24 Shravana 1946

- 22 Agustus 2024 - 25 Shravana 1946

- 23 Agustus 2024 - 26 Shravana 1946

- 24 Agustus 2024 - 27 Shravana 1946

- 25 Agustus 2024 - 28 Shravana 1946

- 26 Agustus 2024 - 29 Shravana 1946

- 27 Agustus 2024 - 30 Shravana 1946

- 28 Agustus 2024 - 31 Shravana 1946

- 29 Agustus 2024 - 1 Bhadrapada 1946

- 30 Agustus 2024 - 2 Bhadrapada 1946

- 31 Agustus 2024 - 3 Bhadrapada 1946


**September 2024:**

- 1 September 2024 - 4 Bhadrapada 1946

- 2 September 2024 - 5 Bhadrapada 1946

- 3 September 2024 - 6 Bhadrapada 1946

- 4 September 2024 - 7 Bhadrapada 1946

- 5 September 2024 - 8 Bhadrapada 1946

- 6 September 2024 - 9 Bhadrapada 1946

- 7 September 2024 - 10 Bhadrapada 1946

- 8 September 2024 - 11 Bhadrapada 1946

- 9 September 2024 - 12 Bhadrapada 1946

- 10 September 2024 - 13 Bhadrapada 1946

- 11 September 2024 - 14 Bhadrapada 1946

- 12 September 2024 - 15 Bhadrapada 1946

- 13 September 2024 - 16 Bhadrapada 1946

- 14 September 2024 - 17 Bhadrapada 1946

- 15 September 2024 - 18 Bhadrapada 1946

- 16 September 2024 - 19 Bhadrapada 1946

- 17 September 2024 - 20 Bhadrapada 1946

- 18 September 2024 - 21 Bhadrapada 1946

- 19 September 2024 - 22 Bhadrapada 1946

- 20 September 2024 - 23 Bhadrapada 1946

- 21 September 2024 - 24 Bhadrapada 1946

- 22 September 2024 - 25 Bhadrapada 1946

- 23 September 2024 - 26 Bhadrapada 1946

- 24 September 2024 - 27 Bhadrapada 1946

- 25 September 2024 - 28 Bhadrapada 1946

- 26 September 2024 - 29 Bhadrapada 1946

- 27 September 2024 - 1 Ashvina 1946

- 28 September 2024 - 2 Ashvina 1946

- 29 September 2024 - 3 Ashvina 1946

- 30 September 2024 - 4 Ashvina 1946


**Oktober 2024:**

- 1 Oktober 2024 - 5 Ashvina 1946

- 2 Oktober 2024 - 6 Ashvina 1946

- 3 Oktober 2024 - 7 Ashvina 1946

- 4 Oktober 2024 - 8 Ashvina 1946

- 5 Oktober 2024 - 9 Ashvina 1946

- 6 Oktober 2024 - 10 Ashvina 1946

- 7 Oktober 2024 - 11 Ashvina 1946

- 8 Oktober 2024 - 12 Ashvina 1946

- 9 Oktober 2024 - 13 Ashvina 1946

- 10 Oktober 2024 - 14 Ashvina 1946

- 11 Oktober 2024 - 15 Ashvina 1946

- 12 Oktober 2024 - 16 Ashvina 1946

- 13 Oktober 2024 - 17 Ashvina 1946

- 14 Oktober 2024 - 18 Ashvina 1946

- 15 Oktober 2024 - 19 Ashvina 1946

- 16 Oktober 2024 - 20 Ashvina 1946

- 17 Oktober 2024 - 21 Ashvina 1946

- 18 Oktober 2024 - 22 Ashvina 1946

- 19 Oktober 2024 - 23 Ashvina 1946

- 20 Oktober 2024 - 24 Ashvina 1946

- 21 Oktober 2024 - 25 Ashvina 1946

- 22 Oktober 2024 - 26 Ashvina 1946

- 23 Oktober 2024 - 27 Ashvina 1946

- 24 Oktober 2024 - 28 Ashvina 1946

- 25 Oktober 2024 - 29 Ashvina 1946

- 26 Oktober 2024 - 30 Ashvina 1946

- 27 Oktober 2024 - 1 Kartika 1946

- 28 Oktober 2024 - 2 Kartika 1946

- 29 Oktober 2024 - 3 Kartika 1946

- 30 Oktober 2024 - 4 Kartika 1946

- 31 Oktober 2024 - 5 Kartika 1946


**November 2024:**

- 1 November 2024 - 6 Kartika 1946

- 2 November 2024 - 7 Kartika 1946

- 3 November 2024 - 8 Kartika 1946

- 4 November 2024 - 9 Kartika 1946

- 5 November 2024 - 10 Kartika 1946

- 6 November 2024 - 11 Kartika 1946

- 7 November 2024 - 12 Kartika 1946

- 8 November 2024 - 13 Kartika 1946

- 9 November 2024 - 14 Kartika 1946

- 10 November 2024 - 15 Kartika 1946

- 11 November 2024 - 16 Kartika 1946

- 12 November 2024 - 17 Kartika 1946

- 13 November 2024 - 18 Kartika 1946

- 14 November 2024 - 19 Kartika 1946

- 15 November 2024 - 20 Kartika 1946

- 16 November 2024 - 21 Kartika 1946

- 17 November 2024 - 22 Kartika 1946

- 18 November 2024 - 23 Kartika 1946

- 19 November 2024 - 24 Kartika 1946

- 20 November 2024 - 25 Kartika 1946

- 21 November 2024 - 26 Kartika 1946

- 22 November 2024 - 27 Kartika 1946

- 23 November 2024 - 28 Kartika 1946

- 24 November 2024 - 29 Kartika 1946

- 25 November 2024 - 1 Agrahayana 1946

- 26 November 2024 - 2 Agrahayana 1946

- 27 November 2024 - 3 Agrahayana 1946

- 28 November 2024 - 4 Agrahayana 1946

- 29 November 2024 - 5 Agrahayana 1946

- 30 November 2024 - 6 Agrahayana 1946


**Desember 2024:**

- 1 Desember 2024 - 7 Agrahayana 1946

- 2 Desember 2024 - 8 Agrahayana 1946

- 3 Desember 2024 - 9 Agrahayana 1946

- 4 Desember 2024 - 10 Agrahayana 1946

- 5 Desember 2024 - 11 Agrahayana 1946

- 6 Desember 2024 - 12 Agrahayana 1946

- 7 Desember 2024 - 13 Agrahayana 1946

- 8 Desember 2024 - 14 Agrahayana 1946

- 9 Desember 2024 - 15 Agrahayana 1946

- 10 Desember 2024 - 16 Agrahayana 1946

- 11 Desember 2024 - 17 Agrahayana 1946

- 12 Desember 2024 - 18 Agrahayana 1946

- 13 Desember 2024 - 19 Agrahayana 1946

- 14 Desember 2024 - 20 Agrahayana 1946

- 15 Desember 2024 - 21 Agrahayana 1946

- 16 Desember 2024 - 22 Agrahayana 1946

- 17 Desember 2024 - 23 Agrahayana 1946

- 18 Desember 2024 - 24 Agrahayana 1946


Makrifat

 Makrifatulloh



Kamis, 04 Juli 2024

MEDITASI HANYALAH SADAR

 DALAM MEDITASI TIDAK ADA SALAH BENAR,HANYA SADAR.

saat saya post yang beranekaragam,pikiran bereaksi.Reaksi hanya dua hal

1.setuju

2.menolak

1.Setuju jika otak anda memiliki data program sebelumnya yg sama dan sealur.

Contoh saya bahas meditasi dan anda sebelumnya punya data positif tentang meditasi maka anda cocok.dan di lain hari saya post habaib ba alawi,bisa saja anda tidak setuju pada bagian ini karena mungkin saja anda muhibbin ba alawi.atau NU yang pecinta habaib.jadi pada bagian ini anda menolak statemen saya.disinilah kemudian pikiran anda bereaksi dan komentar GURU MEDITASI TAPI KERJAANYA MENGHUJAT.


2.Menolak jika program data di pikiran masa lalu anda bersebrangan.contohnya anda dulu mendapatkan data data program islam konserfatif maka melihat tulisan meditasi saja mungkin pikiran merasa risih meradang atau merasa itu ajaran sesat.

Apakah ketika pikiran anda bilang meditasi itu sesat lantas faktanya meditasi itu sesat?

Tidak

Anda bilang sesat hanya karena anda memiliki data lama yang berbenturan atau bertolak belakang dengan konsep keditasi.masalahnya cuma itu.

Sehingga yang terjadi adalah DATA VS DATA.

Tidak ada hubungannya dengan benar salah.


Tetapi dalam meditasi tidak ada larangan untuk berkomentar.


Anda bebas bereaksi sesuai dengan pikiran anda.bisa menolak bisa menerima.tetapi meditasi artinya TIDAK TERIKAT DENGAN PIKIRAN.

Tidak terikat disini artinya bukan dilarang berpikir.anda bebas berpikir seliar mungkin,namun SADAR.

sadar sedang berpikir,sadar sedang bereaksi

Sadar muncul pikiran yang menolak atau menerima.

Ini adalah langkah pertama dalam meditasi.yaitu sadar saat pikiran muncul.


Dalam ajaran meditasi tidak di kekang dan di wajibkan menjadi orang baik orang benar orang lurus dan sebagainya.hal utama dan yang paling pertama adalah melatih SADAR.

Baik dalam kondisi baik atau dalam kondisi buruk.

Tidak ada larangan dan kewajiban dalam ilmu meditasi.tugas utamanya hanya MENYADARI PROSES BERPIKIR.DAN KEMUDIAN KITA MENJADI TIDAK TERIKAT DENGAN BERBAGAI PENILAIAN.


Dengan tidak terikat pada berbagai reaksi pikiran,maka emosi menjadi tidak tercurahkan pada penilaian tersebut.contohnya jika anda suka dengan postingan saya dan anda dalam kondisi meditasi maka kesukaan anda pada saya tidak 100%.suka setuju tetapi tidak terikat.tidak sepenuhnya mencurahkan hati nurani untuk 100% .sehingga akal sehat anda masih waras.kalo fersi jawanya : KALO SUKA JANGAN TERLALU SUKA,KALO BENCI JANGAN TERLALU BENCI.itu terjadi karna SADAR.


Sadar bahwa setuju dan menolak hanyalah pekerjaan PIKIRAN.dan pikiran adalah persepsi.dan persepsi tergantung sudut pandang kita dalam menilai.dan semua itu tidak ada atau ilusi.

Setuju dan menolak dalam Rangka di Area permainan duniawi.bukan sepenuhnya menaruh kebencian dan suka.anda tetap SADAR.


Kalo kita ngomong doktrin meditasi,maka SADAR inilah yg sesungguhya perlu disampaikan terus menerus di ajarkan dalam setiap agama.dan di siarkan di setiap majlis majlis pengajian dan forum forum agama.bukan bahas sorga neraka,doa sekian disini sama dengan doa 1000 th.baca ini dijamin surga dll..itu mah otomatis kalo kita bisa terus sadar setiap waktu.

Bahkan berjoget joget Ria itu pun tidak masalah mau nyanyi nyanyi bebas.namun ajarkan juga hal hal yang paling mendasar ini.bagaimana konsep sadar ini.bagaimana cara prakteknya.lalu saat mau nyanyi saat mau kendang kendangan supaya yang ngendang sadar yang nyuling sadar yang vocal sadar dan jamaahnya pun SADAR.di ingatkan terus menerus karena ini FONDASINYA.


1.kelas sabda dan telepati

https://www.facebook.com/share/p/W3zyDLaYs1tQKR8Z/?mibextid=oFDknk


2.kelas avatar 

https://www.facebook.com/share/v/icWUueViWfBbTF5R/?mibextid=oFDknk


3.kelas meditasi tantra

https://www.facebook.com/share/p/ibdgPJeJUS5uWEsS/?mibextid=oFDknk


4.Belajar meditasi dasar

https://www.facebook.com/share/v/onwsTbKhTaJnN6wZ/?mibextid=oFDknk


5.kelas meditasi menaklukkan Rasa Sakit

https://www.facebook.com/share/v/E2CEhq9W4oYfzaQv/?mibextid=oFDknk


6.kelas membaca masa depan:

https://www.facebook.com/share/v/7f5V2fMAyG8Xp4Am/?mibextid=oFDknk

Selasa, 02 Juli 2024

MAMA GHUFRON BAHASA SURYANI INI ASMAK JALJALUT

 KARNA LAGI VIRAL MAMA GHUFRON YANG NGOMONG BAHASA SURYANI,SAYA SHARE INI

Asmak jaljalut Bahasa Suryani


(dalam aksara Suryani)


ܒܫܡ ܐܠܗܐ ܪܚܡܢܐ ܘܪܚܡܐ  

ܐܠܗܝ ܐܢܐ ܫܐܠܐ ܡܢ ܓܠܓܠܘܬܝܐ ܓܠܓܠܘܬܝܐ ܓܠܓܠܘܬܝܐ ܓܠܓܠܘܬܝܐ  

ܕܬܥܒܕ ܠܝ ܡܢ ܐܡܪܝ ܦܪܓܐ ܘܡܦܩܐ  

ܐܠܗܝ ܡܢ ܝܣܪ ܠܝ ܐܡܪܝ ܘܢܫܪܗ ܠܝ ܨܕܪܝ ܘܢܦܪܩ ܥܩܕܐ ܡܢ ܠܫܢܝ ܕܝܦܩܗ ܩܘܠܝ  

ܐܠܗܝ ܒܚܩ ܓܠܓܠܘܬܝܐ  


B'shem Alaha Rachmana w'Rachama  

Alahi ana sh'ala men Galgalutaya Galgalutaya Galgalutaya Galgalutaya  

d'te'bed li men emri farja w'mafqa  

Alahi men yisra li amri w'nshra li tsadri w'nifra 'aqda men lshani d'yafqahu qoli  

Alahi b'haqq Galgalutaya  


 Bahasa Arab

بسم الله الرحمن الرحيم  

اللهم إني أسألك بجلجلوتيا جلجلوتيا جلجلوتيا جلجلوتيا  

أن تجعل لي من أمري فرجاً ومخرجاً  

اللهم يسر لي أمري واشرح لي صدري واحلل عقدة من لساني يفقهوا قولي  

اللهم بحق جلجلوتيا  


Terjemahan Bahasa Indonesia

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang  

Ya Allah, aku memohon kepada-Mu dengan nama Jaljalut, Jaljalut, Jaljalut, Jaljalut  

Agar Engkau menjadikan urusanku ada jalan keluar dan kemudahan  

Ya Allah, permudahlah urusanku dan lapangkanlah dadaku serta lepaskanlah kekakuan dari lidahku agar mereka memahami perkataanku  

Ya Allah, dengan hak Jaljalut  


Cara Pengamalan

1. **Persiapan Diri:**

   - Sebelum mengamalkan asmak Jaljalut, disarankan untuk berwudhu dan berada dalam keadaan suci.

   - Pilih tempat yang tenang dan bersih untuk melakukan amalan ini.


2. **Niat:**

   - Niatkan dalam hati bahwa amalan ini dilakukan semata-mata untuk mencari keridhaan Allah dan memohon pertolongan-Nya.


3. **Membaca Asmak Jaljalut:**

   - Baca asmak Jaljalut secara berulang-ulang, biasanya dalam jumlah yang ganjil seperti 3, 7, atau 21 kali.

   - Saat membaca, fokuskan pikiran dan hati pada maksud dan tujuan amalan.


4. **Dzikir dan Doa:**

   - Setelah selesai membaca asmak Jaljalut, lanjutkan dengan dzikir dan doa memohon kepada Allah untuk mengabulkan permohonan yang diinginkan.


5. **Konsistensi:**

   - Lakukan amalan ini secara rutin, misalnya setiap hari atau setiap malam, tergantung dari kebutuhan dan kemampuan pribadi.


Fungsi Asmak Jaljalut

1. **Memohon Kemudahan:**

   - Asmak Jaljalut sering diamalkan untuk memohon kemudahan dalam segala urusan, baik itu urusan duniawi maupun ukhrawi.


2. **Meminta Pertolongan dan Perlindungan:**

   - Digunakan untuk memohon pertolongan dan perlindungan dari segala macam kesulitan dan bahaya.


3. **Mencari Ketenangan Hati:**

   - Membaca asmak ini diharapkan dapat memberikan ketenangan hati dan pikiran, serta menghilangkan rasa cemas atau stres.


4. **Memperoleh Kelancaran dalam Berkomunikasi:**

   - Sebagai doa agar diberikan kelancaran dalam berbicara, terutama dalam situasi penting seperti presentasi, wawancara kerja, atau berbicara di depan umum.


5. **Mencari Pencerahan Spiritual:**

   - Amalan ini juga dimaksudkan untuk m

endekatkan diri kepada Allah dan mencari pencerahan spiritual.